Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pesona Pantai Plengkung G-Land Alas Purwo, Surga Ombak Raksasa yang Diburu Peselancar Dunia

Ali Sodiqin • Sabtu, 3 Januari 2026 | 14:30 WIB

MENUNGGANG OMBAK: Rio Waida berhasil melaju ke babak 16 besar setelah mengalahkan peselancar peringkat satu dunia Felipe Toledo pada hari pertama Liga Selancar Dunia di Pantai Plengkung (G-Land), Sabtu (28/5). (WSL for Radar Banyuwangi)
MENUNGGANG OMBAK: Rio Waida berhasil melaju ke babak 16 besar setelah mengalahkan peselancar peringkat satu dunia Felipe Toledo pada hari pertama Liga Selancar Dunia di Pantai Plengkung (G-Land), Sabtu (28/5). (WSL for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Di antara deretan destinasi wisata yang tersebar di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, hanya satu lokasi yang benar-benar mendunia dan menjadi magnet wisatawan mancanegara.

Tempat itu adalah Pantai Plengkung, yang lebih populer di kalangan peselancar dunia dengan sebutan G-Land.

Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai salah satu surga selancar terbaik di dunia, bahkan disejajarkan dengan Hawaii, Australia, dan Afrika Selatan.

Pantai Plengkung terletak di sisi tenggara Alas Purwo, menghadap langsung ke Samudra Hindia. Keistimewaannya terletak pada karakter ombak yang sangat besar, panjang, dan konsisten.

Tak heran jika pantai ini mendapat julukan fantastis dari para peselancar internasional.

Salah satunya, sebutan The Seven Giant Wave Wonder, lantaran ombaknya bisa datang hingga tujuh lapis secara beruntun.

Panjang gelombang di Pantai Plengkung disebut mencapai sekitar dua kilometer, dengan tinggi ombak berkisar antara empat hingga enam meter dan interval datang sekitar lima menit.

Karakter ombak inilah yang membuat kawasan ini kerap dijadikan lokasi kompetisi selancar berskala internasional.

Tak sedikit peselancar profesional dunia yang menjadikan G-Land sebagai destinasi wajib dalam kalender petualangan mereka.

Pengunjung Alas Purwo, Dwi Ariyanto, mengatakan bahwa hanya sedikit tempat di dunia yang memiliki karakter ombak seperti Plengkung.

“Selain di sini, hanya ada di Hawaii, Australia, dan Afrika Selatan. Tapi Plengkung ini nomor dua setelah Hawaii,” ujarnya.

Menurut Dwi, keunggulan Hawaii adalah ombaknya yang aktif sepanjang tahun. Sementara di Plengkung, puncak kualitas ombak biasanya terjadi pada bulan-bulan tertentu.

“Biasanya antara April sampai Agustus. Di bulan-bulan itu, peselancar dari berbagai negara berdatangan,” tambah pria yang juga menekuni dunia fotografi dan desain grafis tersebut.

Nama G-Land sendiri memiliki beberapa versi cerita. Sebagian peselancar menyebut istilah itu berasal dari Pelabuhan Grajagan, yang menjadi titik awal perjalanan menuju Plengkung menggunakan perahu.

Versi lain menyebut huruf “G” merujuk pada bentuk teluk Plengkung yang menyerupai huruf tersebut.

Ada pula yang mengaitkannya dengan istilah Green Land, karena kawasan ini dikelilingi hutan hujan tropis yang hijau dan masih sangat alami.

Namun, daya tarik Plengkung bukan semata ombaknya. Lanskap alam di kawasan ini menjadi pesona tersendiri.

Pantai berpasir putih berpadu dengan hutan lebat, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Tidak ada jaringan telepon seluler, tidak ada televisi, minim kendaraan, dan hampir tanpa pedagang kaki lima.

Kondisi ini menjadikan Plengkung sebagai tempat pelarian sempurna dari kebisingan peradaban modern.

Justru karena suasananya yang terisolasi dan sunyi, kawasan ini pernah dikenal sebagai tempat “persembunyian”.

Dwi mengungkapkan bahwa pada akhir 1990-an, pernah ada buronan internasional asal Amerika yang tertangkap setelah lama bersembunyi di kawasan Alas Purwo.

“Pengakuannya, dia sudah tinggal di sini sejak pertengahan 1980-an,” ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat pengelola kini lebih selektif dalam menerima tamu.

Setiap pengunjung yang masuk kawasan Plengkung wajib didata secara rinci, termasuk tujuan dan aktivitas yang akan dilakukan.

Hal ini juga berlaku bagi mereka yang datang untuk kegiatan spiritual seperti semedi atau bertapa.

“Kami sekarang lebih berhati-hati. Semua tamu kami data identitasnya dan ditanya keperluannya ke Alas Purwo,” terang Dwi.

Meski demikian, ketatnya pengawasan tak mengurangi pesona Plengkung sebagai destinasi wisata kelas dunia.

Justru suasana yang alami, sunyi, dan terjaga membuat kawasan ini semakin eksklusif.

Bagi peselancar profesional, G-Land bukan sekadar pantai, melainkan medan uji nyali sekaligus tempat menaklukkan salah satu ombak terbaik di muka bumi.

Bagi wisatawan umum, Plengkung menawarkan pengalaman langka: menyatu dengan alam liar, menikmati pantai perawan, dan merasakan ketenangan yang nyaris tak tersentuh modernisasi.

Tak berlebihan jika Pantai Plengkung disebut sebagai mahkota tersembunyi Alas Purwo, sekaligus ikon wisata ekstrem Indonesia yang harum hingga mancanegara. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#plengkung #selancar #wisata #G-Land Banyuwangi #banyuwangi