Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Wali Hasan Tegaldlimo: Ulama Pejuang, Penyebar Islam, dan Destinasi Wisata Religi Banyuwangi Selatan

Ali Sodiqin • Rabu, 3 Desember 2025 | 16:46 WIB
Salah satu pengunjung sedang berdoa di makam Mbah Wali Hasan Dusun Sumberkepoh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Senin (3/11).
Salah satu pengunjung sedang berdoa di makam Mbah Wali Hasan Dusun Sumberkepoh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Senin (3/11).

RADARBANYUWANGI.ID – Nama waliyullah Abu Hasan Basri, atau yang akrab disebut Wali Hasan, sudah lama dikenal harum di wilayah Banyuwangi bagian selatan.

Ulama yang wafat pada 1953 ini dikenang sebagai pendakwah yang santun, pejuang yang gigih melawan kolonial Belanda, serta sosok yang dicintai masyarakat.

Makamnya yang berada di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo kini menjadi tujuan wisata religi.

Asal-usul kedatangan Wali Hasan ke Banyuwangi memang tidak tercatat secara resmi. Namun menurut cerita tutur yang berkembang, ia berasal dari Buntet, Kabupaten Cirebon.

Ia diyakini masih berada dalam garis keturunan Syekh Syarif Hidayatullah, atau Sunan Gunung Jati.

Hal itu diungkapkan oleh Mbah Walijan (79), juru kunci makam yang telah lama menjaga situs religi tersebut.

“Mbah Wali Abu Hasan Basri ini masih keturunan Sunan Gunung Jati dari garis ayahnya Abdul Mu’in dan ibunya Raden Ratna,” ujarnya dengan suara serak khas orang sepuh.

Dakwah dari Dusun ke Dusun

Mbah Walijan berkisah, kedatangan pertama Wali Hasan di Bumi Blambangan mempertemukannya dengan seorang warga bernama Abdul Sahid.

Pertemanan keduanya berlanjut dengan penyerahan sebidang tanah kepada sang ulama.

Lahan itu kemudian menjadi tempat berdakwah sekaligus lokasi makamnya kini.

“Awalnya santri beliau hanya satu, tapi kemudian semakin banyak,” kenangnya.

Wali Hasan tidak hanya berdakwah di Sumberkepuh. Ia juga menjangkau Desa Sumberberas dan Kedungrejo di Kecamatan Muncar.

Dimanapun ia singgah, ia terbiasa mendirikan masjid atau musala yang hingga kini masih digunakan warga.

Ulama Pejuang Melawan Penjajah

Selain berdakwah, Wali Hasan juga aktif dalam perjuangan melawan kolonial Belanda.

Sosoknya digambarkan selalu mengutamakan keselamatan rakyat dalam setiap pergerakan yang ia lakukan.

“Beliau itu pejuang. Rumahnya beberapa kali menjadi target serangan Belanda,” jelas Mbah Walijan.

Serangan–serangan itu diyakini selalu gagal, sehingga muncul keyakinan masyarakat bahwa beliau memiliki perlindungan dari Allah SWT.

Meninggal dan Dikenang

Sejak wafat pada 1953, nama Wali Hasan semakin kuat di hati warga sekitar.

Sikapnya yang rendah hati serta penyampaian dakwah yang lembut membuat masyarakat menjadikannya panutan bahkan setelah beliau tiada.

Ziarah ke makamnya semakin ramai terutama menjelang Ramadan, Idulfitri, serta malam Jumat Legi.

“Kalau bulan biasa, paling ramai ya pas Jumat Legi,” terang Mbah Walijan.

Baca Juga: Doni Monardo: Jejak Sang Jenderal — Dari Kopassus ke BNPB, Kini Dirindukan Saat Bencana Sumatera

Wisata Religi yang Mudah Diakses

Lokasi makam yang berada di sekitar 10 kilometer dari Kantor Kecamatan Tegaldlimo, tepat di jalur menuju Taman Nasional Alas Purwo, membuatnya mudah dijangkau peziarah dari berbagai daerah.

Menurut Mbah Walijan, setiap Kamis pagi hingga malam Jumat Legi, pengunjung datang bergelombang.

Warga sekitar bahkan turut menyediakan makanan gratis sebagai bentuk penghormatan.

Para peziarah tidak hanya masyarakat umum, tetapi juga sejumlah pejabat yang datang secara pribadi untuk berdoa.

Selain itu, pengunjung juga meningkat pada masa tertentu seperti menjelang pemilu dan selama bulan Suro.

“Mereka datang untuk berdoa dan ngalap berkah, berwasilah kepada Mbah Wali Hasan,” tutupnya.

Kehadiran makam Wali Hasan Basri menjadi bukti perjalanan panjang dakwah Islam di Banyuwangi selatan.

Warisan perjuangan dan kebaikannya masih mengalir hingga kini, menjadikannya salah satu figur penting dalam sejarah religius dan sosial masyarakat Tegaldlimo. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#pejuang #tegaldlimo #kisah wali hasan #wisata religi #Banyuwangi 5 #Destinasi Wisata #Syekh Syarif Hidayatullah #penyebar islam #sunan gunung jati #alas purwo #Abu Hasan Basri #Ulama