RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena blue fire yang selama ini menjadi daya tarik wisata Kawah Ijen ternyata memiliki hubungan erat dengan merosotnya jumlah pemikul belerang dalam beberapa tahun terakhir.
PT Candi Ngrimbi selaku pengelola produksi belerang di kawasan tersebut, mengungkapkan, minimnya aktivitas penambang menyebabkan gangguan pada proses sublimasi, hingga memicu munculnya api biru dari pipa-pipa pawon.
Manajemen PT Candi Ngrimbi Virga Nugraha mengatakan, sejak dulu jumlah pengangkut belerang mengalami penurunan tajam.
”Tahun 2010, kita punya 400 pemikul belerang. Jumlah tersebut terus menurun hingga pada 2017 hanya tinggal 150 orang,” ujarnya.
Untuk meringankan beban para pemikul, perusahaan kemudian menciptakan troli atau arko yang telah dimodifikasi.
Namun, kehadiran alat tersebut justru berkembang menjadi troli wisata yang sering digunakan untuk mengangkut wisatawan naik turun di TWA Ijen.
“Akhirnya banyak pegawai pemikul belerang bikin troli wisata sendiri untuk melayani wisatawan. Jumlah pemikul belerang turun drastis hingga hanya 20 orang pada 2024. Karena aktivitas di daerah pipa belerang sepi, produksi ikut turun jauh. Kalau aktivitas pengangkutan belerang banyak, blue fire itu justru jarang muncul,” kata Virga.
Tahun ini, sebagian pendorong troli wisata diwajibkan memiliki kartu izin. Banyak yang tidak memilikinya sehingga para penyedia jasa ojek troli memilih kembali menjadi pemikul belerang.
“Sekarang jumlah pemikul belerang meningkat lagi menjadi 84 orang. Dengan begitu, kegiatan rutin kita untuk menjaga kelancaran proses sublimasi bisa berjalan, termasuk penyiraman di area pipa,” jelasnya.
Virga menyebutkan, pada periode ketika jumlah pemikul sangat sedikit, banyak belerang yang tidak terangkut. Kondisi itu justru dimanfaatkan beberapa oknum.
“Dulu karena tidak ada yang mengatur, pemikul cuma 15 sampai 20 orang. Banyak belerang yang tidak diambil. Itu yang dibakar oknum untuk memunculkan blue fire. Akibatnya pipa sampai terbakar, dan kami dirugikan karena tidak ada kompensasi ke PT Candi Ngrimbi,” tegasnya.
Selain faktor berkurangnya pekerja, fenomena blue fire juga dipicu oleh gangguan teknis pada instalasi pawon, yakni pipa-pipa besar yang mengalirkan gas solfatara menuju titik keluarnya sublimat belerang.
Sambungan pipa yang longgar atau bocor menyebabkan gas keluar sebelum mencapai lokasi yang direncanakan.
Gas yang lolos melalui celah sambungan mengalir dengan kecepatan sekitar 4 meter per detik pada suhu 190–350 °C, menimbulkan suara menyerupai blower.
Gesekan gas berkecepatan tinggi itu menaikkan suhu hingga mencapai titik nyala unsur belerang.
Dengan meningkatnya kembali jumlah pemikul belerang serta pengawasan ketat terhadap aktivitas di lapangan, perusahaan berharap proses sublimasi lebih stabil dan potensi kemunculan api biru yang tidak diinginkan dapat ditekan.
“Ketika suhu mencapai titik nyala, belerang terbakar dan menghasilkan api biru. Inilah yang terlihat masyarakat sebagai blue fire,” ujar Virga.
Ia menegaskan bahwa api biru bukan fenomena alam murni, melainkan akibat ketidakteraturan pada proses sublimasi maupun kebocoran sambungan pipa. (cw6-M Ksatria Raya/aif)
Editor : Ali Sodiqin