RADARBANYUWANGI.ID - Efek domino padamnya blue fire (api biru) di Taman Wisata Alam (TWA) Ijen mulai merambat ke lini pariwisata lainya.
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Banyuwangi mengungkapkan, terjadi penurunan wisatawan hingga 40 persen ke beberapa destinasi wisata, terutama yang memiliki paket dengan Ijen.
Ketua Perkumpulan Pokdarwis Banyuwangi Abdul Aziz mengatakan, konsep wisata Ijen tidak berdiri sendiri.
Beberapa menjalankan ekosistem paket wisata yang digabungkan dengan destinasi lain.
Dari Banyuwangi Utara ada paket wisata Taman Nasional Baluran, Pulau Tabuhan, Bangsring Underwater, Grand Watududol (GWD) yang kemudian dipadukan dengan trip Ijen di malam harinya.
Kondisi serupa berlaku di wilayah Banyuwangi Selatan. Wisatawan biasanya mengambil paket dari TN Alas Purwo, Pantai Mustika, Pulau Merah, Djawatan, kemudian ke Ijen.
Sehingga, saat blue fire yang menjadi andalan mengalami kendala, dampaknya juga dirasakan destinasi wisata lainya.
"Jadi penarik wisatawan, terutama yang mancanegara, masih sangat bergantung dengan TWA Ijen. Sekarang kunjungan wisatawan mulai menurun sampai 40 persen, terutama yang mancanegara," kata Aziz.
Akar masalah terhentinya blue fire, menurut Aziz, bermula dari dampak yang dirasakan PT Candi Ngrimbi selaku perusahaan yang memiliki izin tambang belerang di TWA Ijen.
Banyaknya belerang yang terbakar untuk menyalakan blue fire mengakibatkan penurunan produksi belerang bagi PT Candi Ngrimbi.
"Sebenarnya bisa disiasati bagaimana agar PT Candi Ngrimbi juga bisa mendapat profit dari blue fire ini. Mungkin bisa dipihakketigakan untuk yang bagian mengurus blue fire ini, tapi dengan SOP ketat. PT Candi Ngrimbi tetap mendapat profit dari kegiatan wisata" imbuhnya.
Jika permasalahan blue fire berlarut, pria yang juga menjadi pengelola GWD itu mengatakan, sudah saatnya Ijen di-branding ulang.
Artinya promosi tentang TWA Ijen yang memiliki fenomena blue fire yang hanya ada dua di dunia sudah tak lagi relevan. Ijen bisa dipromosikan melalui keunggulan lainya.
"Pasti akan berpengaruh pada market, tapi kita bisa menjual Ijen ya hanya Ijen saja, tanpa blue fire," tegas Aziz.
Fenomena blue fire, menurut Aziz, bisa dijadikan sebuah opsi atraksi wisata yang disediakan khusus.
Para penambang bisa menyediakan beberapa belerang untuk dibakar sebagai pemahaman kepada wisatawan tentang blue fire di Ijen.
"Blue fire tidak mesti ditunjukan di titik kawah, tapi disiasati bagaimana pelaku wisata menyiapkan sisa belerang kemudian dibakar untuk menunjukan ke wisatawan,’’ ungkapnya.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Ainur Rofiq mengatakan, pihaknya sudah berkordinasi dengan BKSDA dan PT Candi Ngrimbi untuk mencari solusi terkait masalah tersebut.
Rencananya, nanti akan tim yang melakukan perawatan kepada saluran gas belerang agar blue fire tetap bisa menyala.
"Tapi untuk implementasinya kapan kita belum tahu," kata Rofiq.
Permasalahan blue fire menurut Rofiq dikarenakan tidak adanya penambang yang mengatur saluran gas belerang.
Di sisi lain, jumlah penambang terus menyusut akibat semakin banyak yang beralih profesi menjadi ojek troli wisata.
"Mungkin mereka (penambang) menganggap ojek troli lebih menjanjikan. Di sisi lain Candi Ngrimbi juga sedang mengalami kondisi tidak baik karena di pasaran stok belerang melimpah dan membuat harga turun," kata Rofiq.
Dia mengamini jika padamnya blue fire berdampak pada kunjungan wisatawan. Selagi menunggu ada aksi untuk blue fire, Rofiq mengatakan Ijen harus di-branding dari sisi yang lain.
Seperti keindahan landscape yang ada, kemudian fakta tentang Ijen yang memiliki kawah asam terasam di dunia.
Selanjutnya ada juga momen sunset di Ijen yang cukup luar biasa. Ide-ide seperti ini bisa diisampaikan kepada para travel agen wisata sebagai produk untuk menarik wisatawan.
"Di Bromo juga tidak ada blue fire, yang dijual keunggulan landscape. Kia juga punya, jadi karakter itu yang bisa kita sosialisasikan kepada wisatawan,’’ pungkasnya. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin