Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Blue Fire Kawah Ijen Padam Hampir Sebulan, Kunjungan Wisata Anjlok: Perbaikan Pipa Belerang Jadi Penyebab Utama

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Minggu, 23 November 2025 | 11:30 WIB
Seorang wisatawan hanya bisa melihat asap putih di dekat dapur belerang. Kondisi puncak Ijen tak seramai bulan sebelumnya.
Seorang wisatawan hanya bisa melihat asap putih di dekat dapur belerang. Kondisi puncak Ijen tak seramai bulan sebelumnya.

RADARBANYUWANGI.ID - Hampir satu bulan sejak Minggu (26/10), fenomena blue fire di Kawah Ijen tidak terlihat.

Dalam kurun tersebut, proses perbaikan pipa belerang yang dikelola PT Candi Ngrimbi menjadi faktor utama padamnya api biru yang selama ini menjadi ikon Taman Wisata Alam (TWA) Ijen. Kondisi ini bisa berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan ke Ijen.

Awal padamnya blue fire, tepatnya Minggu (26/11), kondisi pipa belerang menunjukkan kerusakan yang cukup serius. Dari total 90 pipa penyalur belerang, hanya 75 yang masih aktif, dan dari jumlah tersebut hanya 40 pipa yang bekerja secara normal.

Perbaikan yang dilakukan teknisi menyebabkan penyiraman pada area pipa sehingga aliran gas sulfur yang menjadi pemicu munculnya blue fire tidak dapat keluar secara optimal.

Seperti diketahui, fenomena blue fire terbentuk oleh pembakaran gas sulfur bersuhu tinggi yang bereaksi dengan oksigen, dan hanya terlihat jelas pada malam hari.

Kepala Resort TWA Ijen Sigit Hari Wibowo menjelaskan,  proses pemeliharaan pipa masih terus dilakukan hingga saat ini.

Menurutnya, perbaikan teknis tersebut memang berdampak langsung pada padamnya api biru.  

“Sampai saat ini pipa belerang sedang dalam proses perbaikan oleh teknisi PT Candi Ngrimbi. Otomatis blue fire tidak bisa muncul kalau sedang ada perbaikan, karena harus dilakukan penyiraman untuk bongkar dan pasang pipa,” ujarnya.

Sigit menambahkan bahwa menurunnya jumlah wisatawan tidak sepenuhnya disebabkan padamnya blue fire.

Ia menyebut faktor cuaca turut mempengaruhi, terutama pada wisatawan lokal yang biasanya enggan mendaki saat memasuki musim hujan.

Sementara itu, bagi wisatawan mancanegara, November memang termasuk masa low season sehingga jumlah kunjungan secara alami menurun.

Sigit menegaskan, BKSDA turut memastikan koordinasi dengan PT Candi Ngrimbi berjalan intensif.  

“Terkait kegiatan pemeliharaan pipa oleh teknisi PT Candi Ngrimbi, pihak BKSDA akan terus berkoordinasi,” ujarnya.

Dampak dari hilangnya api biru langsung terlihat dari data kunjungan wisatawan.

Jika pada awal Oktober, tepatnya Sabtu (4/10), tiket pendakian Ijen ludes terjual hingga 1.064 lembar seblum api biru di TWA Ijen hilang, angka kunjungan kini jauh menurun Sesudahnya.

Data terbaru menunjukkan, Sabtu (22/11) hanya 378 tiket terjual dan Minggu (23/11) bahkan sempat anjlok hingga 333 orang.

Angka ini sangat timpang dari kapasitas maksimal 2.000 tiket per hari.

Sigit menilai penurunan kunjungan wisatawan tidak sepenuhnya disebabkan oleh padamnya blue fire.

Menurut dia, faktor utama tetap dipengaruhi oleh musim penghujan yang terjadi selama November.

"Memasuki musim penghujan, biasanya orang enggan mendaki. Untuk wisatawan mancanegara, ini sudah masuk low season," ujarnya.

Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Ainur Rofiq, mengatakan pihaknya telah turun langsung ke lapangan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk memastikan kondisi di lapangan.

Namun ia menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan teknis terkait perbaikan pipa karena TWA Ijen berada di bawah BKSDA, sementara pengelolaan belerang menjadi tanggung jawab PT Candi Ngrimbi.

Ainur mengungkapkan bahwa lambatnya proses perbaikan dipicu berkurangnya tenaga teknisi dari perusahaan tersebut.

“Kendala yang terjadi adalah berkurangnya tenaga teknisi dari PT Candi Ngrimbi. Ada yang berhenti atau berganti profesi, kemungkinan karena faktor ekonomi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Disbudpar terus berkoordinasi dengan pihak terkait mengingat padamnya blue fire berdampak langsung pada penurunan kunjungan wisatawan dan perekonomian warga sekitar kawasan Ijen.

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Banyuwangi Dewa Alit Siswanto menambahkan, hingga kini belum ada kepastian kapan seluruh pipa belerang dapat selesai diperbaiki.

 “Setiap pipa memiliki tingkat perbaikan yang berbeda. Masih belum bisa dipastikan kapan rampung,” tuturnya.

Ia memastikan Disbudpar Banyuwangi akan terus melakukan koordinasi agar proses pemeliharaan dapat segera diselesaikan sehingga wisatawan kembali dapat menikmati ikon utama Kawah Ijen tersebut.

Selama November, curah hujan yang terus mengguyur Banyuwangi juga berpengaruh pada kemunculan blue fire.

Di sisi lain, perbaikan pipa belerang yang berlangsung berkepanjangan membuat fenomena itu tidak bisa muncul sama sekali.

Kondisi ini membuat kawasan wisata yang biasanya menjadi primadona wisatawan domestik maupun mancanegara tersebut mengalami penurunan kunjungan yang cukup drastis.

Dampak penurunan kunjungan turut dirasakan oleh para pemandu wisata. Misbah, seorang pemandu mengatakan, wisatawan datang dengan harapan besar dapat melihat blue fire.

“Wisatawan berekspektasi mau lihat blue fire, mas. Tapi setelah sampai Ijen ternyata tidak bisa lihat. Mungkin itu faktor kenapa turis sepi sekarang,” katanya.

Menurutnya, banyak wisatawan memilih membatalkan rencana atau mempercepat waktu kunjungan setelah mengetahui fenomena tersebut tidak muncul.

Pemandu wisata lainnya, Billy Jo Nugroho, juga merasakan hal serupa. Ia mengungkapkan bahwa intensitas api biru mulai menurun sejak akhir pekan lalu.

“Saya turun ke blue fire pada Sabtu (25/10), waktu itu apinya masih besar. Tapi mulai Minggu (26/10) apinya mulai padam,” ujarnya.

Billy membenarkan bahwa saat ini kunjungan wisatawan berada pada titik rendah karena perpaduan antara low season dan padamnya blue fire. “Ya banyak juga yang kecewa. Sudah sepi, tidak ada blue flame,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa kekecewaan itu tidak hanya dirasakan wisatawan, tetapi juga para pemandu wisata yang menggantungkan penghasilan dari kunjungan ke Ijen.

Selama November, curah hujan yang terus mengguyur Banyuwangi juga berpengaruh pada kemunculan blue fire.

Di sisi lain, perbaikan pipa belerang yang berlangsung berkepanjangan membuat fenomena itu tidak bisa muncul sama sekali.

Kondisi ini membuat kawasan wisata yang biasanya menjadi primadona wisatawan domestik maupun mancanegara tersebut mengalami penurunan kunjungan yang cukup drastis.

ATTAB: Tren Wisatawan Menurun karena Low Season

Asosiasi Tour and Travel Agent Banyuwangi (ATTAB) ikut bersuara terkait turunnya jumlah wisatawan Ijen. 

Pengurus ATTAB Arif mengatakan, fenomena blue fire jelas berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan. Sebab,  fenomena blue fire sudah mendunia.

Arif  menekankan bahwa sepinya kunjungan akhir-akhir ini bukan sepenuhnya karena blue fire, melainkan tren kunjungan wisatawan sedang menurun karena memasuki low season.

 “Untuk kunjungan Ijen, terutama wisatawan mancanegara, yang ramai pada holiday summer. Mulai bulan Juni hingga Agustus. Jadi sekarang sepinya kunjungan tidak sepenuhnya karena blue fire,” jelasnya.

Menurut Arif, padamnya blue fire akibat proses perbaikan pipa belerang milik PT Candi Ngrimbi. Dari total 90 pipa penyalur belerang di area kawah, hanya 75 yang masih aktif, dan hanya 40 pipa yang benar-benar berfungsi normal.

Proses pemeliharaan yang memerlukan penyiraman area kerja membuat aliran gas sulfur terhambat sehingga blue fire tidak dapat muncul.

Kepala Resort TWA Ijen Sigit Hari Wibowo membenarkan bahwa perbaikan pipa menjadi penyebab utama hilangnya blue fire sementara waktu.

“Sampai saat ini pipa belerang sedang dalam proses perbaikan oleh teknisi PT Candi Ngrimbi. Otomatis blue fire tidak bisa muncul kalau sedang perbaikan pipa, karena harus dilakukan penyiraman untuk bongkar dan pasang pipa,” jelasnya.

Misbah salah satu pemandu wisata di TWA Ijen berharap perbaikan pipa segera rampung dan fenomena blue fire kembali terlihat agar minat wisatawan pulih.  

“Yang jelas banyak yang kecewa dengan padamnya blue flame, baik wisatawan maupun pemandu. Kami berharap cepat selesai, biar Ijen kembali ramai,” pungkasnya. (cw6-M Ksatria Raya/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Sepi Pengunjung #low season #Blue Fire Menghilang #kawah ijen #banyuwangi