RADARBANYUWANGI.ID - Transportasi umum memegang peran penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia, terutama di kawasan perkotaan yang padat penduduk.
Dalam konteks mobilitas harian masyarakat Jabodetabek, Commuter Line menjadi tulang punggung layanan transportasi yang aman, efisien, dan terjangkau.
Menurut data resmi KAI Commuter, jumlah pengguna KRL Jabodetabek pada triwulan III 2025 mencapai 89.088.257 penumpang, mengalami kenaikan sekitar 4,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan ini menunjukkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap moda transportasi berbasis rel.
Di antara seluruh stasiun, Stasiun Bogor mencatat jumlah pengguna terbesar, disusul Tanah Abang dan Bekasi.
Di balik capaian tersebut, terdapat perjalanan panjang dari berbagai rangkaian kereta yang selama bertahun-tahun menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas warga.
Tiga di antaranya adalah Tokyu 8500, TM 7000, dan JR East 203, rangkaian generasi awal yang diimpor dari Jepang pada 2006–2011.
Ketiganya sebelumnya telah beroperasi di Jepang selama 25 tahun sebelum akhirnya memasuki layanan KRL Jabodetabek.
Kehadiran tiga seri KRL Jepang ini menjadi titik awal modernisasi layanan KRL di Indonesia.
Sebelum era impor KRL berpendingin udara, masyarakat masih menggunakan kereta ekonomi tanpa AC yang identik dengan kondisi kurang nyaman.
Seri Tokyu 8500, yang dijuluki Jalita (Jalan-Jalan Lintas Jakarta), menjadi yang pertama tiba pada 2006, diikuti TM 7000 pada 2010 dan JR East 203 pada 2011.
Berkat keandalan dan fasilitasnya, ketiga seri ini menjadi ikon yang melekat dalam ingatan para pengguna KRL.
Namun setelah hampir lima dekade usia produksi, serta tantangan ketersediaan suku cadang, PT KCI memutuskan menghentikan operasional ketiganya.
Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi mereka, Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) bekerja sama dengan KAI Commuter menyelenggarakan pameran bertajuk “Arigato KRL!” di Stasiun Jakarta Kota pada 11 November 2025.
Acara tersebut turut dihadiri perwakilan Kedutaan Jepang dan Direktur Utama PT KCI.
Pameran ini menyuguhkan informasi sejarah melalui poster edukatif, foto-foto perjalanan kereta, serta miniatur dari berbagai era.
Pengunjung juga dapat melihat seragam petugas, contoh kursi asli, hingga ornamen bertema Jepang seperti Noren dan lampion yang memperkuat suasana nostalgia.
Antusiasme pengunjung terlihat sangat tinggi.
Pada hari kerja, jumlah pengunjung mencapai lebih dari 1.500 orang per hari, sedangkan pada akhir pekan angka tersebut melonjak hingga lebih dari 2.000 orang.
Bagi sebagian pengunjung, KRL bukan hanya moda transportasi, tetapi juga bagian dari perjalanan hidup mereka.
Ali, pemuda 19 tahun yang telah naik KRL sejak usia dua tahun, datang untuk mengenang masa kecilnya bersama rangkaian Tokyu 8500.
Bagi Ali, keberadaan KRL bahkan memberi ketenangan saat ia mengalami stres.
Penggemar kereta lainnya, Ilham, datang untuk mengenang perjalanan yang pernah ia jalani, meskipun tidak seluruhnya menggunakan rangkaian Jalita.
Sementara itu, pengunjung muda seperti Azam dan Zubair sangat antusias melihat miniatur kereta dan merasakan pengalaman masuk ke ruang masinis.
Bagi para pengguna senior seperti Fajri, kehadiran KRL Jepang di masa lalu telah meningkatkan kenyamanan perjalanan secara signifikan.
AC yang sebelumnya tidak tersedia menjadi fasilitas yang sangat dihargai hingga hari ini.
Berbagai harapan muncul dari para pengunjung mengenai peningkatan layanan KRL.
Ali berharap lebih banyak rangkaian dari Jepang yang diimpor, sekaligus perawatan yang lebih baik untuk armada lama.
Fajri mengusulkan penambahan kereta khusus wanita serta peningkatan fasilitas pendingin udara di stasiun.
Sementara Rachel menginginkan jumlah kereta dan petugas diperbanyak demi kenyamanan dan keamanan penumpang.
Editor : Lugas Rumpakaadi