Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mendaki Tanpa Terburu, Menikmati Alam Sepenuh Hati di Gunung Prau

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Minggu, 16 November 2025 | 14:00 WIB
Gunung Prau
Gunung Prau

RADARBANYUWANGI.ID - Gunung Prau adalah surga kecilnya para pendaki pemula. Berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, gunung ini menjulang setinggi 2.565 mdpl dan menawarkan pemandangan yang benar-benar bikin jatuh cinta.

Tak terlalu tinggi, tapi cukup untuk membuat siapa pun merasa berada “di atas awan” ketika sampai di puncak. Suhunya dingin, tapi suasananya hangat sekali.

Nama “Prau” konon diambil dari bentuk gunungnya yang menyerupai perahu terbalik.

Dari jauh, lekukannya tampak halus dan panjang seperti badan perahu yang membelah lautan kabut.

Gunung ini juga unik karena berdiri di perbatasan empat kabupaten sekaligus: Wonosobo, Kendal, Batang, dan Temanggung.

Jadi bisa dibilang, ketika kamu berdiri di puncaknya, kamu sedang berpijak di empat wilayah sekaligus.

Hal paling menyenangkan dari mendaki Gunung Prau adalah medannya yang ramah.

Jalurnya jelas, tanjakannya sedang-sedang saja, dan waktu tempuhnya singkat, rata-rata hanya 3 hingga 4 jam untuk sampai di puncak. Cocok sekali untuk yang baru pertama kali mendaki gunung.

Di sepanjang jalur juga ada warung dan basecamp yang siap membantu kalau butuh logistik atau sekadar istirahat sebentar sambil menyeruput teh hangat.

Hal yang membuat Gunung Prau begitu istimewa tentu saja sunrise-nya. Bayangkan saat berdiri di lautan rumput hijau, sambil menatap matahari perlahan muncul di balik siluet Gunung Sindoro dan Sumbing.

Di bawah kaki, lautan awan mengalir lembut seperti kapas. Tak heran kalau banyak orang menyebut momen ini sebagai salah satu sunrise terbaik di Jawa Tengah.

Selain sunrise, vegetasi di Gunung Prau juga menarik. Banyak ditemukan bunga edelweiss yang mekar di beberapa titik padang rumput, dan kalau beruntung kamu bisa melihat tanaman kantong semar di lereng-lereng lembab.

Alamnya masih cukup terjaga, meski tetap butuh kesadaran dari para pendaki untuk menjaga kebersihan agar pesona Prau tidak pudar karena sampah.

Ada banyak jalur untuk mendaki Gunung Prau, tapi yang paling populer adalah via Patak Banteng. Jalur ini jadi favorit karena aksesnya mudah dan waktu tempuhnya singkat.

Namun kalau ingin suasana lebih sepi dan menantang, jalur Wates atau Dwarawati bisa jadi pilihan.

Setiap jalur punya karakter sendiri — ada yang berbatu, ada yang berumput, tapi semuanya menuju ke satu tujuan: puncak yang menakjubkan.

Sesampainya di atas, yang kamu temui bukan puncak sempit seperti gunung-gunung lain, tapi padang luas dengan rumput bergoyang diterpa angin.

Banyak tenda berwarna-warni berdiri di sana, seolah membentuk desa kecil di atas awan. Malamnya, langit Gunung Prau berubah jadi kanvas hitam bertabur bintang.

Kadang terdengar gitar, tawa, dan cerita, momen sederhana yang terasa istimewa di tengah dinginnya udara Dieng.

Meski gunung ini tergolong mudah, pendakian tetap butuh persiapan. Cuaca di Prau bisa berubah cepat, dan suhu malam hari bisa turun drastis.

Bawalah jaket tebal, senter, dan tentu saja semangat untuk menjaga alam.

Karena yang membuat Gunung Prau indah bukan hanya pemandangannya, tapi juga kesadaran pendakinya untuk tetap mencintai dan merawatnya.


Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi

Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#Wonosobo #gunung #gunung prau