RADARBANYUWANGI.ID – Festival Ngopi Sepuluh Ewu kembali digelar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Sabtu malam ((8/11).
Festival ini merupakan puncak peringatan Hari Jadi ke-168 Desa Kemiren.
Selama festival berlangsung, pengunjung bisa menyeruput kopi secara gratis yang telah disiapkan warga di sepanjang jalan utama Desa Kemiren.
Sebagai persiapan, panitia menyediakan 1,5 kuintal kopi. Sejak Kamis (6/11) ribuan biji kopi sudah di-roasting dan digiling untuk kemeriahan festival. Ketua panitia Festival Ngopi Sepuluh Ewu Moh Edy Saputro mengatakan, kopi yang disediakan adalah campuran dari jenis kopi Robusta dan Arabica.
Kopi dibeli oleh pihak desa dari perkebunan lokal di Banyuwangi. Sebagian juga dibeli dari pelaku UMKM kopi Banyuwangi untuk mendukung ekonomi lokal. Kopi dikemas dalam ukuran 100 hingga 200 gram menjadi 470 paket.
"Kopi kita bagikan ke warga yang tinggal di kanan-kiri jalan sebelum festival. Setiap tahun memang kita bagikan pada warga untuk disajikan pada tamu dan pengunjung di Ngopi Sepuluh Ewu,’’ kata Edy.
Jumlah kopi yang disediakan tahun ini jauh lebih banyak. Tahun lalu, kopi yang disediakan sekitar 125 kilogram. Tahun ini jumlahnya ditambah menjadi 150 kilogram.
"Tahun ini kemungkinan lebih ramai, apalagi pas malam Minggu. Banyak warga yang sudah berniat menambah jumlah meja, jadi kemungkinan bertambah. Tahun lalu ada 300 meja yang disediakan," imbuhnya.
Pada Festival Ngopi Sepuluh Ewu tahun ini, panitia tetap menyuguhkan sebuah pengalaman budaya ngopi di Desa Kemiren bagi masyarakat.
Jalur menuju Desa Kemiren akan mulai ditutup mulai pukul 17.00. Selanjutnya masyarakat yang datang bisa memilih meja-meja yang disediakan warga di sepanjang jalan dari timur sampai ke arah balai desa.
Pengunjung bisa menikmati kopi secara gratis yang diseduh di cangkir-cangkir keramik kecil khas masyarakat Oseng. Tak hanya kopi, pengunjung bisa menyantap jajanan khas Kemiren seperti kucur dan klemben.
"Dengan jumlah 1.100 kepala keluarga di Kemiren, jumlah cangkir yang disiapkan 10 ribu. Ini sesuai dengan tradisi keluarga di Desa Kemiren yang memiliki cangkir keramik warisan turun-temurun,’’ kata Edy.
Untuk memanjakan tamu yang datang, tahun ini digelar pawai patrol dan hiburan musik kolaborasi. Hiburan ini sekaligus menjadi klimaks pelaksanaan Festival Ngopi Sepuluh Ewu.
"Kebiasaan menyuguhkan kopi ini mencerminkan nilai luhur masyarakat Oseng, suguh, gupuh, lungguh, falsafah yang berarti tamu disambut dengan suguhan, keramahan, dan penghormatan,’’ kata Edy.
Kepala Desa Kemiren M. Arifin mengatakan, Festival Ngopi Sepuluh Ewu diharapkan bisa meningkatkan perputaran uang di Desa Kemiren.
Karena itu, warga diminta ikut membuka spot penjualan makanan berat seperti warung rujak soto, sego tempong, pecel pitik, dan kue tradisional.
”Tahun kemarin setiap RT bisa mendapat omzet sampai Rp 3 juta semalam. Kita ingin melestarikan tradisi sekaligus melibatkan warga agar bisa ikut mendapatkan manfaat ekonomi dari Festival Ngopi Sepuluh Ewu,’’ kata Arifin.
Festival Sepuluh Ewu Kopi meupakan puncak dari peringatan Hari Jadi ke-168 Desa Kemiren
Beragam kegiatan seni dan budaya digelar untuk memeriahkan acara tahunan tersebut.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pawai budaya yang menampilkan kesenian khas masyarakat Oseng.
Usai pawai budaya, acara dilanjutkan dengan selamatan tumpeng di balai desa yang diiringi berbagai atraksi seni tradisional.
Masyarakat Kemiren juga melaksanakan tradisi nyekar ke makam Buyut Cili, sebagai bentuk penghormatan kepada pendiri desa. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin