RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena blue fire (api biru) di Taman Wisata Alam (TWA) Ijen yang menjadi magnet utama wisatawan, sejak Minggu (26/10) dilaporkan padam dan belum kembali normal hingga saat ini.
Kondisi tersebut terjadi lantaran adanya perbaikan dan perawatan pipa belerang di area dapur belerang yang dikelola PT Candi Ngrimbi. Pekerjaan yang dilakukan tepat di spot munculnya blue fire.
Di TWA Ijen total 90 pipa penyalur cairan belerang, hanya 75 yang saat ini masih aktif. Dari jumlah itu, hanya 40 pipa yang benar-benar berfungsi normal.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi memastikan terus menjalin koordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) selaku pengelola TWA Ijen dan PT Candi Ngrimbi selaku pengelola tambang belerang.
Kepala Bidang Promisi Disbudpar Banyuwangi Ainur Rofiq mengatakan, beberapa hari lalu pihaknya sudah turun langsung ke TWA Ijen untuk mengonfirmasi kondisi di lapangan.
“Kami sudah berkomunikasi dengan BKSDA dan PT Candi Ngrimbi terkait padamnya blue fire yang banyak dikeluhkan masyarakat yang bekerja di kawasan tersebut,” ujarnya.
Rofiq menambahkan, Disbudpar tidak memiliki kewenangan teknis untuk menangani perbaikan karena TWA Ijen berada dalam wewenang dari BKSDA.
Sementara dari pengelolaan belerang oleh PT Candi Ngrimbi disebut terkendala jumlah pekerja.
“Kendala yang terjadi adalah berkurangnya tenaga teknisi dari PT Candi Ngrimbi. Kurangnya pekerja menjadi faktor lambatnya penanganan, ada yang berhenti atau berganti profesi, kemungkinan karena faktor ekonomi,” tambahnya.
Pemkab Banyuwangi terus melakukan komunikasi, mengingat tidak munculnya blue fire berdampak langsung pada penurunan kunjungan wisatawan, yang ujungnya mempengaruhi perekonomian warga sekitar TWA Ijen.
“Tugas kami hanya mempromosikan dan menangani perbaikan jalan di area sekitar TWA Ijen. Contohnya melalui event-event seperti Tour de Banyuwangi Ijen untuk terus mengangkat ekonomi masyarakat setempat,” kata Rofiq.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Banyuwangi Dewa Alit Siswanto menambahkan, belum ada kepastian kapan seluruh pipa belerang selesai diperbaiki.
“Setiap pipa memiliki tingkat perbaikan berbeda-beda. Masih belum bisa dipastikan kapan rampung,” ujarnya.
Alit mengatakan, pihaknya akan terus berkordinasi terkait perbaikan pipa blerang agar cepet diselesaikan serta para wisatawan bisa melihat kembali ikon dari TWA Ijen tersebut.
Sementara itu, Kepala TWA Ijen Sigit Haribowo menegaskan, BKSDA terus berkoordinasi dengan teknisi PT Candi Ngrimbi agar proses pemeliharaan pipa bisa segera tuntas.
”Terkait dengan kegiatan pemeliharaan pipa oleh teknisi PT Candi Ngrimbi, BKSDA akan terus berkordinasi,” ungkapnya.
Menghilangnya blue fire sangat dirasakan oleh pelaku wisata. Salah satu pemandu wisata Ijen, Misbah, mengungkapkan, salah satu faktor utama turunnya jumlah wisatawan TWA Ijen adalah menghilangnya blue fire.
”Wisatawan kan berekspektasi mau lihat blue fire, Mas. Tapi setelah sampai Ijen ternyata tidak bisa lihat. Mungkin itu faktor kenapa turis sepi sekarang,” tuturnya.
Seperti diberitakan, dampak menghilangnya blue fire di sekitar kawah, pengunjung TWA Ijen menurun drastis.
Pengunjung kecewa lantaran fenomena langka api biru tidak bisa dilihat lagi. Gara-garanya, akses menuju dapur belerang ditutup sejak Sabtu dini hari (1/11).
Jumlah pengunjung Ijen menurun tajam dalam dua pekan terakhir. Padahal, biasanya akhir pekan menjadi puncak kunjungan pendakian membeludak. Dalam kondisi normal, pendakian ke Ijen bisa tembus 900 hingga pada akhir pekan biasa.
Data akhir pekan lalu menunjukkan penurunan signifikan. Pada Sabtu (1/11) jumlah pengunjung tercatat hanya 779 orang. Sedangkan pada Minggu (2/11), lebih anjlok lagi, hanya 333 wisatawan.
Padahal pada awal Oktober, tepatnya Sabtu (4/10), tiket pendakian Ijen mencapai 1.064 ludes terjual. Tidak hanya wisatawan lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara. (cw6-M Ksatria Raya/aif)
Editor : Ali Sodiqin