Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menelusuri Sejarah Nama Pulau Bawean, Permata di Utara Gresik

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Minggu, 26 Oktober 2025 | 21:30 WIB
Pulau Bawean
Pulau Bawean

RADARBANYUWANGI.ID - Pulau Bawean adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Laut Jawa, sekitar 120 kilometer di utara Kota Gresik, Jawa Timur.

Pulau ini sering disebut sebagai “mutiara tersembunyi di Laut Jawa” karena keindahannya yang masih alami dan belum terlalu ramai wisatawan.

Bawean terdiri dari dua kecamatan, yaitu Sangkapura dan Tambak, dan dikelilingi pantai yang memukau, serta budaya masyarakat yang kental dengan tradisi maritim.

Salah satu hal menarik dari Pulau Bawean adalah asal-usul namanya yang memiliki beberapa versi cerita.

Menurut versi yang paling populer, kata “Bawean” berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu gabungan dari kata “ba” yang berarti sinar, “we” yang berarti matahari, dan “an” yang berarti ada.

Jadi, “Bawean” bisa diartikan sebagai “ada sinar matahari” atau “tempat di mana cahaya matahari bersinar”.

Cerita ini muncul dari kisah pelaut Majapahit yang terdampar di pulau itu ketika matahari sedang terbit, sehingga mereka menamainya sesuai momen tersebut.

Namun, ada juga versi lain yang menyebut bahwa sebelum dikenal sebagai Bawean, pulau ini dinamai “Majidi” atau “Majedi”, yang berasal dari bahasa Arab dan berarti “uang logam”. Nama ini diberikan karena bentuk pulau yang bulat menyerupai koin.

Ada pula yang menyebut dalam catatan kuno seperti Negarakertagama, pulau ini disebut “Bubun” atau “Buwun”, menunjukkan bahwa nama Bawean telah mengalami perubahan dari masa ke masa.

Pada masa penjajahan Belanda, nama Bawean sempat ditulis berbeda di peta-peta Eropa, seperti “Bovian”, “Bovean”, hingga “Lubok”.

Meski begitu, masyarakat setempat tetap mempertahankan nama “Bawean” yang sudah mereka kenal turun-temurun. Hal ini menunjukkan kuatnya ikatan masyarakat terhadap identitas lokal mereka, meski ada pengaruh luar dari berbagai bangsa.

Yang menarik, nama Bawean juga menjadi bagian penting dari identitas masyarakatnya. Banyak warga Bawean yang merantau ke Malaysia dan Singapura dikenal dengan sebutan “Boyan” atau “Boyanese”.

Julukan ini berasal dari pelafalan Bawean yang disesuaikan dengan logat Melayu setempat. Kini, istilah “orang Boyan” tidak hanya merujuk pada asal-usul geografis, tapi juga menjadi simbol kerja keras dan keteguhan hati para perantau dari pulau kecil itu.

Jika ditelusuri lebih dalam, asal nama Bawean mencerminkan perpaduan antara legenda, bahasa, dan sejarah kolonial.

Versi Sansekerta memberikan makna filosofis tentang cahaya dan harapan, sedangkan versi Arab menonjolkan nilai simbolik dari bentuk alamnya.

Kedua versi ini menunjukkan bahwa masyarakat masa lampau menamai suatu tempat bukan sekadar berdasarkan rupa, tapi juga pengalaman dan perasaan yang mereka rasakan di sana.

Sekarang, nama Bawean bukan hanya sekadar identitas geografis, melainkan juga bagian dari kebanggaan masyarakatnya.

Pulau ini semakin dikenal karena keindahan alamnya seperti Danau Kastoba, Pantai Labuhan, dan penangkaran rusa endemik yang disebut Rusa Bawean.

Dengan cerita asal-usul yang penuh makna, Bawean terus menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menikmati pesona alam sekaligus menelusuri kisah sejarah di balik namanya.

Bisa disimpulkan bahwa asal mula nama Bawean merupakan kisah yang kaya akan makna budaya dan sejarah.

Entah berasal dari bahasa Sansekerta tentang sinar matahari, atau dari bahasa Arab yang menggambarkan bentuk pulau, keduanya menunjukkan bahwa Bawean adalah pulau yang memiliki cahaya, baik secara harfiah maupun dalam arti simbolis.


Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi

Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#kota gresik #pulau bawean #jawa timur