RADARBANYUWANGI.ID - Bukit Jaddih merupakan salah satu destinasi wisata alam yang cukup populer di Pulau Madura, tepatnya di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan.
Awalnya, tempat ini hanyalah kawasan tambang batu kapur yang aktif, tetapi siapa sangka, bekas pahatan tambang tersebut justru menciptakan pemandangan yang luar biasa indah.
Tebing-tebing putih yang menjulang tinggi berpadu dengan langit biru menjadikan Bukit Jaddih bak negeri kapur yang eksotis.
Secara administratif, kawasan Bukit Jaddih mencakup wilayah yang cukup luas dan bahkan sebagian meliputi Desa Rabasan dan Parseh.
Area ini memiliki pemandangan yang unik, hamparan kapur putih yang membentuk dinding dan tebing dengan pola alami dan buatan.
Di antara tebing-tebing tersebut, terbentuk kolam-kolam air yang jernih dan berwarna kehijauan, menjadikannya salah satu daya tarik utama bagi wisatawan.
Asal mula bentuk indah Bukit Jaddih berasal dari gabungan antara proses alam dan aktivitas manusia.
Selama bertahun-tahun, masyarakat menambang batu kapur dengan cara mengikis dan memotongnya secara manual.
Aktivitas ini menciptakan pola-pola ukiran besar di dinding bukit, yang lambat laun membentuk lanskap dramatis dan menawan seperti yang kita lihat sekarang.
Menariknya, di beberapa titik bekas galian tambang tergenang air hujan dan mata air, membentuk kolam alami yang menambah keindahan kawasan ini.
Salah satu bagian terkenal dari Bukit Jaddih adalah Goa Pote atau gua putih, yang terbentuk akibat aktivitas tambang dan kini menjadi spot foto favorit para wisatawan karena suasananya yang menawan dan misterius.
Melihat potensi wisata yang besar, pemerintah daerah bersama warga setempat kemudian menata kawasan ini agar lebih aman dan nyaman bagi pengunjung.
Akses jalan mulai diperbaiki, fasilitas wisata diperbarui, dan beberapa area disulap menjadi spot foto menarik.
Kini, Bukit Jaddih menjadi tempat yang sering dikunjungi untuk berlibur, bersantai, atau sekadar mencari udara segar.
Meski sudah dikenal sebagai tempat wisata, sebagian wilayah Bukit Jaddih masih aktif digunakan untuk penambangan kapur.
Oleh karena itu, kadang wisatawan masih bisa melihat alat berat atau pekerja tambang yang beraktivitas di area sekitarnya.
Hal ini justru menjadi daya tarik tersendiri, karena memperlihatkan sisi asli kehidupan masyarakat sekitar yang masih menggantungkan hidup dari tambang kapur.
Selain itu, Bukit Jaddih juga menyimpan cerita menarik dari masa lalu. Menurut cerita warga, bukit ini pernah digunakan sebagai tempat persembunyian pada masa penjajahan Jepang.
Ada pula legenda yang menyebut nama “Jaddih” berasal dari kata dalam bahasa Madura “Tekerjed Langsong Deddih” yang berarti “langsung jadi seketika”, menggambarkan keajaiban proses terbentuknya bukit ini.
Kini, Bukit Jaddih bukan hanya simbol keindahan alam Madura, tetapi juga bukti bagaimana bekas aktivitas tambang bisa bertransformasi menjadi daya tarik wisata yang menakjubkan.
Pengunjung bisa menikmati keindahan tebing kapur putih, menjelajahi gua-gua kecil, atau sekadar berfoto di tengah bentang alam yang begitu memukau.
Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin