RADARBANYUWANGI.ID - Air tenang berkilau di Waduk Bajulmati, Situbondo, memantulkan langit biru.
Dari kejauhan, gugusan pulau kecil yang terbentuk akibat sedimentasi tanah menjulang bak perhiasan di tengah waduk.
Sekilas, panorama itu mengingatkan pada pesona Raja Ampat di Papua. Bedanya, destinasi ini ada di timur Jawa, tepatnya di perbatasan Situbondo dan Banyuwangi.
Baca Juga: Box Office: One Battle After Another Debut 48,5 Juta Dolar, Mampu Balik Modal?
Namun, Waduk Bajulmati bukan sekadar tempat berfoto. Ia adalah nadi kehidupan bagi ribuan petani di Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi.
Setiap tetes air yang keluar dari waduk berkapasitas 10 juta meter kubik itu menjadi penolong sawah-sawah di daerah kering.
Saat kemarau, debit air yang dialirkan bisa mencapai 2,2 hingga 2,6 meter kubik per detik. Jumlah yang cukup untuk mengairi sekitar 1.800 hektar lahan pertanian.
“Kalau tidak ada waduk ini, sulit sekali tanam padi. Musim kemarau bisa mati total sawah kami,” ungkap Sukirno (54), petani asal Wongsorejo, sembari menunjukkan hamparan padi mudanya yang baru saja dialiri air.
Penolong dan Penarik Wisata
Kehadiran Waduk Bajulmati memberi napas bagi petani. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, waduk ini juga menghadirkan napas baru: pariwisata.
Pemandangan eksotis di tengah waduk membuat banyak orang datang sekadar untuk berfoto. Beberapa bahkan menyebutnya “Raja Ampat mini”.
Dari tepian waduk, wisatawan bisa menikmati panorama air biru berpadu dengan latar pepohonan Taman Nasional Baluran.
“Indah sekali. Tidak nyangka Situbondo punya view sebagus ini,” tutur Dewi (27), wisatawan asal Jember, sambil berswafoto bersama temannya.
Baca Juga: 7 Weton Paling Susah Tajir, Tapi Tetap Enjoy Jalani Kehidupan! Bahagia Bukan Selalu Karena Harta
Ekonomi Warga Tumbuh
Fenomena ini membawa berkah bagi warga sekitar. Warung-warung kecil mulai bermunculan di tepi waduk, menyediakan kopi, mie instan, hingga gorengan bagi para pengunjung.
Ada pula warga yang menyewakan perahu kecil untuk berkeliling waduk menikmati gugusan pulau.
“Kalau akhir pekan, lumayan ramai. Bisa jadi tambahan penghasilan buat keluarga,” kata Siti Aminah (39), warga Desa Bajulmati yang membuka warung sederhana tak jauh dari lokasi.
Anak-anak muda setempat juga tak mau ketinggalan. Beberapa di antaranya menawarkan jasa fotografi dadakan dengan tarif sukarela.
“Kalau lagi ramai, bisa dapat seratus ribu sehari,” ujar Rizal (18), remaja sekitar yang kini akrab dengan kamera ponsel wisatawan.
Baca Juga: Bungkam Newcastle Lewat Gol Telat Magalhaes! Arsenal Kirim Sinyal Serius Rebut Gelar Liga Inggris
Harapan di Balik Keindahan
Meski menjanjikan, Waduk Bajulmati juga menyimpan tantangan. Pemerintah daerah diingatkan untuk menjaga ekosistem waduk agar tetap lestari, sekaligus menata kawasan wisata supaya lebih tertib.
Dengan begitu, waduk bisa berfungsi ganda: penopang pangan sekaligus destinasi wisata berkelanjutan.
Bagi petani, Waduk Bajulmati adalah sumber hidup. Bagi wisatawan, ia adalah tempat healing yang murah meriah. Bagi warga sekitar, ia adalah peluang ekonomi baru.
Airnya menghidupi. Pemandangannya menyihir. Waduk Bajulmati, benar-benar berkah bagi Situbondo timur dan Banyuwangi barat. (*)
Editor : Ali Sodiqin