RADARBANYUWANGI.ID - Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah jantungnya kota Jogja yang penuh sejarah. Tempat ini didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I setelah adanya Perjanjian Giyanti tahun 1755.
Dari sinilah berdiri sebuah pusat pemerintahan sekaligus budaya yang hingga kini masih hidup dan berdenyut.
Bukan hanya sekadar bangunan megah, keraton ini ibarat rumah besar yang menyimpan cerita panjang tentang Jawa dan Yogyakarta.
Awalnya, pembangunan keraton dilakukan setelah Pangeran Mangkubumi resmi bergelar Sultan Hamengku Buwono I.
Lokasinya dipilih dengan cermat, berada di antara Sungai Code dan Sungai Winongo yang dianggap sebagai kawasan aman sekaligus sakral.
Proses pembangunan dimulai pada 9 Oktober 1755, dan pada tahun berikutnya keraton resmi dihuni. Dari situlah keraton menjadi simbol baru sebuah kerajaan di tanah Jawa.
Kalau kita masuk ke dalam keraton, suasananya tak hanya terasa seperti museum mati. Justru sebaliknya, keraton adalah museum hidup. Di sini masih ada upacara, ritual, dan tradisi yang dilakukan setiap harinya.
Dari bunyi lonceng Kyai Brajanala, tembang Jawa Kuno, sampai pagelaran budaya di Bangsal Sri Manganti, semuanya masih berjalan dan bisa disaksikan langsung oleh pengunjung.
Keraton juga punya banyak bangunan penting dengan fungsi khusus. Sitihinggil digunakan untuk pelantikan resmi, sementara beberapa bangunan lain dijadikan museum.
Ada museum Hamengku Buwono IX, museum kereta kerajaan, sampai koleksi lukisan yang bercerita tentang sejarah panjang kesultanan. Semua itu menambah nilai keraton sebagai pusat budaya yang tetap hidup di tengah kota Jogja.
Keberadaan keraton juga dilindungi secara resmi sebagai cagar budaya. Pemerintah DIY menetapkan area dalam benteng Baluwarti dan kawasan sekitarnya sebagai kawasan perlindungan budaya sejak 2011.
Bahkan pada 2017, kawasan budaya ini diperluas hingga mencakup Malioboro sampai Panggung Krapyak. Jadi, keraton bukan sekadar bangunan indah, tapi juga aset budaya yang dijaga bersama.
Menariknya, keraton kini juga diakui sebagai Kawasan Berbasis Kekayaan Intelektual oleh Kementerian Hukum dan HAM pada tahun 2025.
Ini bukan hanya simbol, tapi menegaskan bahwa keraton adalah pusat kreativitas budaya yang terus berlanjut. Dari seni, tradisi, sampai produk budaya, semuanya diakui sebagai kekayaan intelektual milik bangsa.
Supaya tetap relevan dengan anak muda, keraton juga tak ketinggalan oleh zaman. Sekarang banyak pertunjukan budaya yang direkam dan dibagikan lewat YouTube atau Instagram. Bahkan musik gamelan keraton bisa didengar lewat platform streaming digital.
Dengan begitu, budaya Jawa yang ada di keraton bisa menjangkau lebih banyak orang, bahkan sampai ke luar negeri.
Selain menjaga budaya, keraton juga aktif mendukung kegiatan literasi. Misalnya pada peringatan Hari Buku Nasional 2024, ada kegiatan membaca bersama yang diadakan di dalam kompleks keraton.
Hal ini jadi simbol bahwa keraton bukan cuma menjaga tradisi masa lalu, tapi juga ikut menumbuhkan generasi yang melek literasi dan cinta budaya sejak dini.
Jadi, kalau kamu lagi jalan-jalan ke Jogja, jangan cuma berhenti di Malioboro atau pantainya aja. Cobalah masuk ke Keraton Yogyakarta dan nikmati langsung bagaimana budaya Jawa masih hidup di sana.
Siapa tahu, setelah pulang, kamu nggak cuma bawa oleh-oleh, tapi juga pengalaman berharga tentang kearifan dan keindahan tradisi yang nggak bakal ditemuin di tempat lain.
Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin