RADARBANYUWANGI.ID - Banda Neira, pulau kecil di Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Dengan tampilan sederhana pada globe dunia, tak sangka tempat ini malah menjadi pusat dunia, khususnya pada abad ke- 16 sampai ke- 18.
Saat berkunjung kesana pastinya tak hanya ke tempat wisata, tetapi juga seperti kembali ke masa yang sudah lampau. Menjadi saksi bisu yang kuat antara kolonialisme dengan perdagangan rempah-rempah seperti pala, yang hanya tumbuh di Kepulauan Banda.
Pada abad ke- 16 hingga ke- 18, Kepulauan Banda merupakan tempat penghasil pala satu-satunya yang ada di dunia.
Karena nilai rempah-rempah yang tinggi, membuat Banda Neira ramai diperebutkan oleh bangsa Portugis, Belanda, dan Inggris. Pada saat itu juga, pala dijadikan sebagai simbol anti wabah, bahkan harga jualnya lebih mahal daripada emas.
Ketika tahun 1621, terjadi pembantaian besar-besaran antara Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen, terhadap penduduk asli Banda karena mereka menolak perdagangan pala dengan bangsanya.
Pembataian ini berakibat tewasnya ribuan penduduk, diasingkan, dan digantikan oleh pekerja dari luar. Peristiwa tersebut dinamai sebagai Genosida Banda.
Berdirinya bangunan-bangunan kolonial seperti Benteng Belgica, Benteng Nassau, dan Istana Mini Neira. Tercatat di National Geographic (2020), bangunan ini dibuat oleh bangsa Belanda pada masa VOC, untuk mengatur perdagangan rempah pada masa itu.
Juga terdapat rumah pengasingan seperti Rumah Pengasingan Sutan Sjahrir, dan Rumah Pengasingan Mohammad Hatta.
Selain sebagai tempat pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, juga menjadi tempat pengasingan Cipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusumasumantri. Itulah yang membuat kuat nilai sejarahnya.
Adanya pulau kecil di kepulauan Banda bernama Pulau Rhun, yang dahulu ditukar oleh Belanda kepada Inggris, dengan Kepulauan Manhattan.
Hal ini terdapat pada Perjanjian Breda pada tahun 1667. Kepulauan Manhattan sekarang kini menjadi pusat Kota New York.
Tak hanya soal sejarah, tetapi juga tawaran akan keindahan alamnya yang memukau. lautan biru yang masih jernih, dilengkapi terumbu karang di dasar lautan.
Disertai Gunung Api Banda yang berdiri menjulang, menjadikan suasana disana makin dramatis.
Keindahannya dapat mengalahkan keindahan dari destinasi wisata lainnya. Banda Neira punya keistimewaan sendiri yang membedakannya dari yang lain.
Terdapat beberapa yang dianggap istimewa dan berbeda di antara yang lainnya. Seperti pada atmosfernya, hanya suara ombak yang menggulung di laut, burung-burung yang beterbangan, dan suara daun yang melambai.
Tak ada suara bising dari kendaraan yang mengganggu sekitar. Suasana yang masih asri hingga kini, kehidupan yang seakan lambat berjalan, disinilah waktu seakan berhenti.
Banda Neira, yang kaya akan keindahan alamnya juga sejarahnya. Mengajarkan kepada kita akan keindahan alam yang tak hanya datang dari gemerlap lampu kota, melainkan tentang kedamaian suasana yang tak tergantikan dan waktu yang berjalan lambat.
Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin