RadarBanyuwangi.id - Terowongan Mrawan merupakan salah satu ikon sejarah perkeretaapian di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Timur. Nama terowongan ini diambil dari nama sungai yang mengalir dekatnya.
Terletak di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, terowongan ini bukan hanya menjadi jalur transportasi vital, tetapi juga saksi bisu perkembangan teknologi perkeretaapian sejak masa kolonial Belanda.
Terowongan Mrawan dibangun pada tahun 1902 oleh perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Belanda, Staatsspoorwegen (SS).
Pembangunan ini merupakan bagian dari strategi Belanda untuk memperlancar mobilitas hasil bumi dari dan menuju Banyuwangi.
Jalur ini menjadi bagian dari lintas Kalisat-Banyuwangi, yang dikenal memiliki kontur medan berat, sehingga diperlukan berbagai infrastruktur seperti terowongan dan jembatan untuk menembus pegunungan serta lembah.
Pada awal pembangunannya, dilakukan penggalian di sebelah Gunung Botoh atau bagian sisi arah Kalisat, Jember. Kemudian dilanjutkan dengan penggalian dari sisi Banyuwangi. Selanjutnya, penggalian dilakukan bersamaan dari kedua sisi.
Pada 5 Desember 1902, penggalian terowongan dilakukan sepanjang 450 m dengan drainase sepanjang 300 m, lebih pendek dibandingkan panjang terowongan saat ini. Barulah pada 16 Januari 1903, Terowongan Mrawan untuk pertama kalinya dilintasi kereta api.
Naas pada 1909, Terowongan Mrawan diguncang gempa bumi yang menyebabkan tanah longsor sehingga memutus jalur kereta api. Untuk mengantisipasi hal serupa, SS kemudian memperpanjang kedua sisi terowongan dan menggali lereng curam di sekitarnya.
Revitalisasi terowongan ini selesai pada 1910, yang dibuktikan dengan adanya tulisan tahun tersebut pada bibir terowongan.
Terowongan ini memiliki panjang sekitar 690 meter dan dikenal sebagai salah satu yang terpanjang di jalur kereta api wilayah Jawa Timur dan dibangun sepenuhnya dengan teknik sipil manual tanpa bantuan mesin modern seperti sekarang.
Hingga kini, Terowongan Mrawan masih dilalui layanan kereta api penumpang aktif dari Banyuwangi. Beberapa di antaranya adalah KA Blambangan Ekspres, Mutiara Timur, Wijayakusuma, Sritanjung, Tawangalun, Probowangi, Ijen Ekspres, dan Pandanwangi. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi