RadarBanyuwangi.id - Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah menggulirkan rencana besar.
Jalur kereta api nonaktif akan direaktivtasi sebagai bagian dari strategi penguatan konektivitas wilayah serta pengembangan transportasi publik yang berkelanjutan.
Langkah ini tidak hanya menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi solusi terhadap masalah kemacetan dan tingginya biaya perawatan infrastruktur jalan raya.
Saat ini, terdapat lima jalur kereta api nonaktif yang masuk ke dalam prioritas reaktivasi oleh Pemprov Jawa Barat, antara lain:
- Bandung-Ciwidey (37,8 km)
- Garut-Cikajang (28,2 km)
- Rancaekek-Tanjungsari (11,5 km)
- Cipatat-Padalarang (17 km)
- Banjar-Cijulang (82 km)
Di antara lima relasi tersebut, jalur Banjar-Pangandaran dinilai sebagai yang paling realistis untuk dihidupkan terlebih dahulu.
Hal ini disampaikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menekankan pentingnya jalur tersebut sebagai penghubung kawasan wisata unggulan di Jawa Barat selatan. “Yang paling mungkin dan realistis adalah jalur Banjar–Pangandaran,” ujar Dedi pada Rabu (23/4).
Untuk merealisasikan proyek ini, Pemprov Jawa Barat memperkirakan kebutuhan dana sebesar Rp3 triliun hanya untuk jalur Banjar-Pangandaran. Sedangkan total keseluruhan reaktivasi jalur nonaktif diperkirakan mencapai Rp20 triliun.
PT KAI menyambut baik inisiatif reaktivasi yang digagas pemerintah daerah. Menurut Anne Purba, VP Public Relations KAI, pihaknya siap mendukung penuh langkah ini, termasuk dalam hal pengembalian aset-aset jalur nonaktif yang berada di bawah pengelolaan KAI.
“KAI siap mendukung rencana reaktivasi jalur kereta api yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kereta api dengan segala keunggulannya dapat memberikan kontribusi besar bagi mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi,” jelas Anne, Jumat (25/4).
Reaktivasi jalur kereta api juga telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, sehingga prosesnya memerlukan kolaborasi lintas instansi dan pemenuhan syarat-syarat teknis yang sesuai peraturan.
Sebagai bagian dari persiapan reaktivasi, KAI telah melakukan langkah strategis berupa penambahan sarana transportasi, yaitu 29 trainset Kereta Rel Listrik (KRL) untuk mendukung elektrifikasi, 16 set kereta baru dan 2 set retrofit dari PT INKA, serta 11 set kereta tambahan dari Tiongkok yang akan mulai dioperasikan setelah uji dinamis selesai. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi