RADARBANYUWANGI.ID – Gunung Raung, salah satu gunung berapi aktif yang terkenal dengan kaldera raksasanya, kini memiliki jalur pendakian baru yang tak kalah menarik dibanding jalur via Kalibaru.
Jalur ini berlokasi di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi.
Dikembangkan oleh Kelompok Pecinta Alam Luwak sejak tahun 2004, rute ini menawarkan sensasi petualangan yang benar-benar berbeda, dengan keasrian hutan belantara dan panorama spektakuler sepanjang perjalanan.
Selain keindahan alam, jalur ini juga menyimpan berbagai kisah unik dari proses pembukaannya. Terdapat 10 pos resmi yang dapat dijadikan tempat istirahat maupun bermalam.
Masing-masing pos menyimpan cerita menarik yang menjadi bagian dari sejarah pembentukan jalur ini.
Ali Kabul, salah satu anggota dari Kelompok Pecinta Alam Luwak, menceritakan bahwa proses pembukaan jalur Jambewangi memerlukan waktu panjang.
Dimulai pada tahun 2004 lalu, ekspedisi dilakukan secara bertahap, diawali dengan kajian dan pemetaan jalur dari Dusun Sidomulyo, desa paling ujung di kawasan Jambewangi.
Ekspedisi pertama dan kedua tidak membuahkan hasil maksimal, namun pada percobaan ketiga, jalur menuju puncak akhirnya ditemukan.
Tak berhenti sampai di situ, kelompok ini kembali melakukan lebih dari 15 kali ekspedisi lanjutan guna menyempurnakan rute tanpa merusak alam.
Mereka hanya memberi tanda di sepanjang jalur, sembari tetap menjaga kelestarian hutan yang dilewati.
Hingga akhirnya, jalur pendakian tersebut bisa diselesaikan dalam waktu tempuh rata-rata empat hari pulang-pergi. Lebih singkat dibanding enam hari di masa awal pembukaan.
”Sempat gagal, kami sudah sampai menemukan jalan buntu. Bertemu jurang yang tidak bisa dilalui. Sampai percobaan ke sekian dan berhasil,” ujar Kabul, Minggu (13/4).
Dibandingkan rute lain, jalur Jambewangi memiliki sejumlah keunggulan. Pertama, ketersediaan air yang melimpah hampir di setiap titik pendakian menjadikannya satu-satunya jalur dengan akses sumber air paling aman.
Kedua, panorama yang disuguhkan pun luar biasa. Bahkan sebelum mencapai puncak, pendaki sudah bisa menyaksikan lanskap Banyuwangi secara menyeluruh, lengkap dengan Selat Bali di kejauhan.
”Seperti layar lebar di bioskop, semuanya terbentang sempurna,” kata Kabul.
Perjalanan dimulai dari Pos 1 atau Brak Seng, yang berjarak sekitar 6 kilometer (km) dari perkampungan terdekat.
Di titik ini masih dijumpai kebun-kebun milik warga. Pos 2 dan 3 belum diberi nama karena biasanya hanya dilalui tanpa bermalam.
Pos 4 dinamakan Pondok Tajeb, diambil dari nama salah satu anggota ekspedisi yang sempat buang air kecil dalam tenda karena takut keluar malam-malam di tengah hutan lebat.
Momen kocak ini menjadi pengingat bahwa keberanian adalah bagian penting dalam menjelajah alam liar.
”Ada teman komunitas yang ikut membuka jalur ini, namanya Tajeb. Karena momen lucu saat dia takut, akhirnya kami menamakan pos ini dengan namanya,” jelas Kabul.
Lanjut ke Pos 5, meski tidak dinamai, menjadi titik penting karena tersedia sumber air yang melimpah.
Pos 6 disebut Pondok Lengit, dinamakan demikian karena dikerumuni jutaan serangga mirip nyamuk yang menyerbu tenda pendaki. Sementara Pos 7 tidak ada nama.
”Di pos lima ini disarankan untuk mengisi ulang persediaan air, karena sumbernya tumpah ruah,” katanya.
Pos 8 disebut Pondok Rukun. Penamaan ini berdasarkan cerita kelompok Luwak yang hampir terpecah.
Ceritanya, setelah ekspedisi kedua gagal, pada ekspedisi ketiga kelompok Luwak terlibat cekcok setelah melewati pos 7. Kondisi terus terjadi hingga di pemberhentian pos 8.
”Kondisi cuaca, fisik, dan pikiran sudah tidak sinkron. Fokus dan mood juga sudah pecah, mungkin disebut frustasi ya karena pembukaan jalur benar-benar susah. Karena hutan belantara, kami hanya meraba-raba,” jelas Kabul.
Di saat itulah kemudian turun hujan yang begitu derasnya. Suhu sekitar pun dengan cepat menurun.
Mendapati situasi tersebut, dari 8 personel ekspedisi secara otomatis menunaikan tugasnya masing-masing untuk melakukan tindakan survival.
Hingga akhirnya terbangun sebuah tenda. Sejak itulah, kekompakan mereka terajut kembali.
”Karena situasi itu semua lupa dengan ego masing-masing. Karena fokus untuk bisa bertahan di tengah-tengah hutan belantara dan pohon-pohon besar. Kemudian disepakati dinamakan Pondok Rukun,” katanya.
Kabul menyebut, kondisi serupa juga sering kali dilakoni oleh kelompok pendaki Gunung Raung di titik ini. Menurutnya, di titik ini rasa lelah benar-benar pada puncaknya.
Sehingga sering membuat pendaki suka marah-marah tak jelas. Di titik ini pula, godaan untuk menyerah paling kuat menyerang para pendaki.
”Biasa terjadi kan, orang kalau hampir mencapai finis itu godaannya berat. Kapan sampai, apa pulang saja, sudah tidak kuat, nah pikiran-pikiran seperti itu pasti munculnya di titik ini,” ungkapnya.
Pos 9 diberi nama Pondok Bonsai, karena banyak pohon kerdil berusia puluhan hingga ratusan tahun tumbuh alami di kawasan ini.
Kabul menegaskan agar para pendaki menjaga etika dan tidak merusak vegetasi langka ini. ”Cukup dikagumi, jangan dibawa pulang,” pesannya.
Pos 10 dinamakan Pondok Jaya, titik kemenangan sekaligus batas vegetasi di ketinggian lebih dari 2.600 meter. Pemandangan di titik ini sangat menakjubkan, membuat pendaki merasa seakan berdiri di atas awan.
Namun, perjalanan belum selesai. Ada satu titik lanjutan yang dikenal sebagai Pos 11, jalur ekstrem menuju puncak sejati Gunung Raung.
Medannya berupa pasir dan bebatuan rapuh, tanpa vegetasi, dan hanya bisa dilalui dengan pemandu serta peralatan lengkap. Angin kencang dan permukaan labil membuat jalur ini sangat berisiko.
”Pendakian via Jambewangi bukan hanya soal menaklukkan puncak, tetapi juga perjalanan spiritual dan mental yang mempertemukan pendaki dengan dirinya sendiri, alam, dan sesama,” pungkas Kabul. (cw4/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin