RADARBANYUWANGI.ID - Destinasi Ekowisata Mangrove Bedul yang terletak di Dusun Bloksolo, Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, pernah menjadi salah satu objek wisata yang sangat populer pada awal 2010-an.
Setiap hari, ratusan pengunjung datang untuk menikmati keindahan hutan mangrove dan pantai yang menawan.
Namun, kini tempat wisata yang diresmikan oleh Bupati Banyuwangi, Ratna Ani Lestari, pada 10 Oktober 2010 ini tampak sepi dan kurang terawat.
Fasilitas yang ada di Ekowisata Mangrove Bedul kini banyak yang rusak dan tidak terawat. Tempat mandi dan kantor keamanan terlihat kotor, sementara warung yang dulunya berjejer kini hanya tersisa dua yang masih buka.
“Kami sudah tidak ikut mengelola lagi,” ungkap Mohamad Yasin, S.Pd.I., Kepala Desa Sumberasri, Purwoharjo.
Yasin menjelaskan bahwa Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang sebelumnya terlibat dalam pengelolaan Ekowisata Mangrove Bedul, sejak akhir 2022 telah mundur dari pengelolaan.
“Bumdes mundur dari pengelolaan wisata Bedul,” katanya.
Saat ini, pengelolaan tempat wisata tersebut beralih ke Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang berada di bawah binaan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP).
“Anggota KUB itu para nelayan asal Desa Sumberasri,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai alasan mundurnya Bumdes dari pengelolaan, Yasin menyampaikan bahwa mereka tidak mampu membayar retribusi kepada TNAP.
“Apalagi, saat ini pengunjung juga cukup sepi. Juga tidak ada pendapatan yang masuk ke desa dari wisata Bedul itu,” jelasnya.
Kondisi ini menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh pengelola dalam mempertahankan daya tarik Ekowisata Mangrove Bedul.
Diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait untuk mengembalikan kejayaan destinasi wisata ini agar dapat kembali menarik minat pengunjung dan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. (*)
Editor : Ali Sodiqin