Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Konflik Manajerial Sebabkan Belasan Tempat Wisata di Banyuwangi Mati Suri

Agung Sedana • Senin, 7 April 2025 | 09:00 WIB
TAK BEROPERASI: Destinasi wisata alam Jambewangi Jungle Lodge di kaki Gunung Raung yang dulu sempat hits kini tutup.
TAK BEROPERASI: Destinasi wisata alam Jambewangi Jungle Lodge di kaki Gunung Raung yang dulu sempat hits kini tutup.

RADARBANYUWANGI.ID – Sejumlah destinasi wisata alam di Banyuwangi ”mati suri”.

Ironisnya, destinasi-destinasi wisata itu tutup bukan lantaran minim pengunjung, tetapi karena adanya konflik internal pengelola.

Destinasi wisata alam yang tutup tersebut tersebar di wilayah utara, selatan, hingga barat Banyuwangi. Kalaupun hingga kini masih dikunjungi wisatawan, destinasi tersebut tidak lagi dikelola secara resmi.

Fenomena itu dibenarkan oleh Ketua Asosiasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Banyuwangi Abdul Aziz. Dia menyatakan ada belasan destinasi wisata yang mati suri.

”Ada sekitar 15 wisata yang gagal bertahan dan akhirnya tutup. Beberapa masih dikunjungi, namun tidak lagi dikelola secara resmi,” ujarnya, Minggu (6/4).

Aziz mengatakan, pariwisata merupakan salah satu sektor strategis dalam pembangunan ekonomi daerah.

Namun, banyak destinasi wisata lokal yang mengalami stagnasi bahkan kemunduran akibat berbagai persoalan mendasar, salah satunya konflik manajerial.

Aziz menyatakan, faktor konflik manajerial menjadi dalang utama kematian wisata sejauh ini.

Dalam kasus ini, pengelolaan destinasi wisata tidak dilakukan secara profesional dan berkelanjutan. Hingga akhirnya terjadi konflik kepentingan antarpihak pengelola.

Akibat konflik internal pengelola, tidak ada perencanaan jangka panjang, kegiatan promosi terhenti, dan banyak fasilitas dibiarkan rusak tanpa perawatan.

Kurangnya transparansi dan ketidakkonsistenan dalam pengelolaan juga menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat lokal dan investor potensial.

Baca Juga: Ajudan Kapolri Diduga Pukul Jurnalis Saat Kunjungan Resmi di Stasiun Semarang Tawang, Begini Kronologinya

”Pemicu utamanya karena konflik. Sehingga menyebabkan stagnasi dalam pengambilan keputusan strategis. Ending-nya tutup,” jelas Aziz.

Menurut Aziz, pengelolaan destinasi wisata membutuhkan komitmen yang kuat disertai konsistensi yang luar biasa.

Baik ramai atau sepi kunjungan, pengelola harus konsisten menjaga pelayanan serta kesiapan lokasi wisata.

”Saya bilang butuh ’orang gila’ untuk mengelola wisata. Sanggup ’puasa’ dan punya frekuensi yang sama di internal. Manajemen harus sehat sehingga minim kepentingan perseorangan,” bebernya.

Aziz merinci, beberapa wisata yang saat ini mati suri di antaranya Mangrove MCD, Kampung Primitif, Air Terjun Lider, Air Terjun Temcor Kembar Arum, Tirto Kemanten, WAB Banyuanyar, Bukit Sewu Sambang, Jambewangi Jungle Lodge, dan beberapa wisata alam lainnya.

Selain konflik manajerial, persoalan infrastruktur juga menjadi problematik lain. Akses jalan yang sulit menjadikan wisata tersebut seperti jam pasir, lama-lama sepi pengunjung dan berujung penutupan.

”Zaman sekarang orang berlibur butuh nyaman dan cepat. Persoalan akses jalan yang sulit juga dapat menjadikan wisata itu tutup. Maka, di sini pengelola harus pintar dalam mencari jalan keluar,” pungkasnya. (cw4/sgt/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#destinasi #tutup #wisata #banyuwangi #Manajerial #konflik