Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Hari Ini Diperingati Sebagai 1 Abad Perjalanan KRL Jabodetabek, Begini Sejarah Panjang Kereta Bertenaga Listrik di Indonesia

Lugas Rumpakaadi • Minggu, 6 April 2025 | 23:06 WIB
KRL Commuter Line Jabodetabek lintas Cikarang Loop Line melintas JPL 81 Kota Bekasi, Jawa Barat.
KRL Commuter Line Jabodetabek lintas Cikarang Loop Line melintas JPL 81 Kota Bekasi, Jawa Barat.

RadarBanyuwangi.id - Hari ini, Minggu (6/4), diperingati sebagai 1 abad perjalanan kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek.

KRL yang ada di lintas Jabodetabek, kini dikelola oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter), ternyata sudah genap berusia 100 tahun.

Lantas, seperti apa sejarah panjang KRL yang kini menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi di wilayah Jabodetabek?

Sejarah kereta rel listrik (KRL) di Indonesia dimulai pada masa kolonial Hindia Belanda dan berkembang hingga menjadi salah satu moda transportasi utama di era modern.

Pada awalnya, kereta api di Indonesia diperkenalkan pada masa Tanam Paksa sekitar tahun 1825, namun masih menggunakan tenaga uap. 

Wacana elektrifikasi jalur kereta api mulai muncul pada tahun 1917, dipelopori oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda. Mereka melihat elektrifikasi sebagai langkah ekonomis dan efisien. 

Proyek pertama dimulai pada 1923 untuk rute Tanjung Priok–Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) di Batavia (Jakarta), dan selesai pada 24 Desember 1924.

Pada tanggal 6 April 1925, KRL resmi beroperasi untuk pertama kalinya di Indonesia, menghubungkan Tanjung Priok dan Jatinegara. 

Peresmian ini bertepatan dengan ulang tahun ke-50 Staatsspoorwegen dan peresmian Stasiun Tanjung Priok. 

KRL pertama ini menggunakan sistem propulsi motor listrik dengan listrik aliran atas bertegangan 1.500 V DC, dan dibuat oleh perusahaan Belanda seperti Werkspoor dan Heemaf Hengelo, dengan komponen dari Westinghouse dan General Electric. 

Dua rangkaian kereta dioperasikan, yang bisa digabung menjadi empat kereta, menandai dimulainya sistem transportasi massal modern di Asia.

Elektrifikasi kemudian meluas. Pada 1927, jalur lingkar Batavia selesai, melayani rute seperti Batavia (Jakarta Kota)–Kemayoran dan Jatinegara–Manggarai–Koningsplein (Gambir). 

Pada 1930, jalur Jakarta–Bogor mulai beroperasi, didukung oleh pembangkit listrik tenaga air seperti PLTA Ubrug dan Kracak di Sukabumi. 

Lokomotif listrik yang digunakan termasuk seri ESS 3200 (Werkspoor), seri 3000 (Swiss Locomotive & Machine Works), dan seri 3100 (Allgemeine Electricitat Gesellschaft dari Jerman).

Setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945, KRL tetap beroperasi di sekitar Jakarta, dikelola oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKA), yang kemudian menjadi PT Kereta Api Indonesia (KAI). 

Namun, hingga pertengahan abad ke-20, tidak ada penambahan signifikan pada armada listrik, sehingga lokomotif tua dari Belanda mulai tidak memadai.

Pada tahun 1976, terjadi pembaruan besar dengan kedatangan KRL buatan Jepang, seperti KRL Rheostatik dari Nippon Sharyo, Hitachi, dan Kawasaki. Ini menggantikan lokomotif listrik Belanda yang sudah uzur. 

KRL ini awalnya melayani rute ekonomi di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan menjadi tulang punggung transportasi komuter selama beberapa dekade.

Memasuki era modern, pada tahun 2000, Jepang menghibahkan 72 unit KRL bekas melalui JICA dan Pemerintah Kota Tokyo, menandai modernisasi lebih lanjut. 

Pada 2008, PT KAI membentuk anak perusahaan, PT KAI Commuter Jabodetabek (kemudian menjadi PT Kereta Commuter Indonesia atau KCI pada 2017), untuk mengelola KRL secara khusus. 

Sistem "loop line" diperkenalkan pada 2011, menyederhanakan rute menjadi enam jalur terintegrasi di Jabodetabek.

Saat ini, KRL Commuter Line didominasi oleh armada bekas Jepang, dengan sebagian kecil produksi dalam negeri oleh PT INKA. 

Elektrifikasi juga terus diperluas, seperti ke Rangkasbitung pada 2017 dan lintas Yogyakarta–Solo. 

Pada 2024, KCI menandatangani kontrak dengan CRRC Qingdao Sifang untuk pengadaan KRL baru (KCI-SFC120-V), menunjukkan komitmen untuk memenuhi kebutuhan penumpang yang terus meningkat.

Dari awal mula pada 1925 hingga kini, KRL di Indonesia telah berevolusi dari inovasi kolonial menjadi transportasi komuter modern yang vital, terutama di wilayah perkotaan seperti Jabodetabek. (*)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#ibu kota #transportasi #1 abad #kai commuter #jabodetabek #kolonial #belanda #krl #100 tahun