Radarbanyuwangi.id – Dua pendaki gunung Elsa Laksono dan Lilie Wijayati, meninggal dunia saat berada di puncak Carstensz Pyramid atau Gunung Puncak Jaya, Papua.
Kejadian yang terjadi pada Sabtu (1/3) tersebut diduga menimpa dua pendaki karena mengalami hipotermia. Lalu bagaimana sebenarnya Puncak Carstensz Pryramid tersebut?
Carstensz sendiri merupakan jenis gunung non-vulkanik yang terbentuk dari aktivitas tektonik dan erosi.
Puncak Carstensz memiliki nama lain yang lebih familiar dengan sebutan Puncak Jaya. Puncak Carstensz merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia.
Gunung ini memiliki ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung ini berada di Pegunungan Sudirman, Papua.
Keberadaannya menjadi salah satu gunung yang paling menantang untuk didaki. Ini disebabkan gunung ini memiliki medan yang ekstrem maupun perizinan yang berlapis.
Keistimewaan Puncak Carstensz adalah adanya salju abadi yang menutupi bagian puncakna. Ini menjadi keistimewaan khusus yang membuatnya begidu berkilau di mata para pendaki.
Gunung Carstensz bagian dari rangkaian Seven Summits Indonesia yang menjadi target utama pendaki Indonesia maupun dunia.
Dalam sejarahnya, Puncak Carstensz ditemukan oleh Jan Carstensz seorang warga negara Belanda pada tahun 1623.
Dalam ekspedisinya, dia menyampaikan adanya puncak bersalju di tengah wilayah tropis. Gambaran yang sempat dianggap tidak masuk akal pada masa itu.
Namun setelah Indonesia merdeka, Gunung Carstensz pun juga dikenal dengan nama Puncak Jaya.
Jalur untuk mencapai puncak tidak mudah. Pendaki harus melewati jalur trekking panjang dengan durasi 7 sampai 10 hari melewati desa penduduk, hutan belantara, sungai.
Ciri khas Papua, faktor cuaca menjadi musuh utama. Untuk sampai titik awal perjalanan menuju puncak, pendaki perlu mencapai case camp lembang Kuning terlebih dahulu.
Dari base camp, pendaki butuh waktu 6 hingga 12 jam untuk bisa sampai di puncak.
Di puncak juga penuh tantangan. Suhu disana bisa mencapai di bawah 0°C. Bahkan cuaca juga sering berubah secara tiba-tiba. Mulai dari hujan deras, kabut tebal, hingga badai es.
Ada opsi lebih mudah untuk mendaki. yaitu dengan menggunakan helikopter dari Timika langsung ke base camp Lembah Kuning atau Base Camp Yellow Valley.
Tapi musuh utama tetap cuaca. Dengan bentang alam ekstrem dan cuaca yang sudah ditebak, Puncak Carstensz menjadi bukan arena bagi pendaki amatir. (*)
Editor : Niklaas Andries