SAMSUDIN ADLAWI, Seoul, Korsel
TEPAT pukul 08.25 waktu setempat (lebih cepat 2 jam dari WIB), saya tiba di Bandara Incheon, Korsel. Pesawat GA-879 (Garuda Indonesia) yang saya tumpangi mendarat mulus di atas runway yang selimuti salju. Penat akibat penerbangan 6,5 jam lenyap seketika melihat lembaran-lembaran salju kecil dan tipis melayang-melayang. Hinggap di sekujur pesawat.
Pagi itu, 28 Januari 2025, salju turun begitu lebatnya. Selain mengubah landasan pacu menjadi putih, salju juga membungkus hampir semua pesawat yang terparkir di apron masing-masing maskapainya. ”Pasti di luar dingin banget,” gumam saya dalam hati.
Benar saja. Begitu masuk dalam bandara, saya langsung mengecek jam tangan. Tertulis suhu di Seoul hari itu minus 5 derajat (-5)! Sebelum keluar bandara, saya bergegas mencari toilet. Ganti baju. Pakai baju rangkap. Lapis pertama (wajib) adalah long-Jhon. Lalu celana jins. Untuk atasan, setelah long-Jhon saya lapisi kaus lengan panjang. Baru setelahnya pakai jaket winter. Tak lupa sarung tangan dan kupluk khusus winter. Begitu juga istri dan anak saya. Juga beberapa rombongan sepesawat. Melakukan hal yang sama. Setelah beres baru keluar bandara. ”Wow, dingin sekali,” begitu yang saya rasakan.
Ketika hawa dingin bersalju tipis menerpa wajah. Sementara badan sampai kaki aman-aman saja. Terlindungi pakaian tiga lapis tadi. Kebetulan, saat itu, angin juga berembus lumayan kencang. Selain terasa langsung di wajah, juga bisa disaksikan dari lembaran salju yang beterbangan. Arahnya berubah-ubah mengikuti embusan anginnya.
Tak ada waktu untuk leha-leha. Harus segera meluncur ke Kota Chuncheon, Provinsi Gangwon. Di ujung timur Korsel. Dari Seoul jaraknya hampir 75 kilometer (km). Dalam kondisi normal, bisa ditempuh dalam 1,5 sampai 2 jam. Namun, ketika turun salju seperti yang kami alami, perjalanannya molor hingga 2,5 jam.
Chuncheon punya beberapa destinasi wisata unggulan. Begitu tiba di sana, kami langsung menuju ke Elysian Ski Resort. Destinasi wisata bermain ski. Ramai sekali. Banyak rombongan dari Korsel sendiri maupun mancanegara datang dengan pakaian khusus. Yakni, pakaian bermain ski lengkap dengan papan skinya. Sementara wisatawan yang tidak bermain ski, bisa naik sky-train (gondola) menuju puncak Mt. Elysian (bukit Elysian).
Gondolanya unik. Tidak seperti di tempat lain. Ketika naik gondola di gunung Genting Malaysia, Gunung Uludak Turki, dan Gunung Titlis Italia, saya tidak begitu waswas. Sebab, gondolanya tertutup. Seperti sedang berada dalam kotak kaca yang berjalan. Tapi, gondola di Elysian Korsel tidak ada tutupnya. Hanya berupa kursi panjang untuk empat orang, lalu ada besi melintang di depan dada. Fungsinya selain untuk melindungi badan supaya tidak terdorong ke depan, juga sekaligus untuk pegangan.
Benar juga. Sensasi ngeri-ngeri sedap langsung mengguncang dada. Begitu gondola mulai berjalan. Seakan tubuh sedang melayang di udara. Di atas hamparan pohon-pohon yang meranggas. Dan, tentu saja, hamparan salju putih. Ratusan pengunjung yang sedang meluncur di atas papan salju di bawah cukup ampuh mengurangi rasa ngeri di ketinggian.
Tak terasa kaki mulai gemetaran. Terutama ketika gondola mulai meninggi. Sulit membedakan, kaki itu gemetar akibat kedinginan atau akibat rasa takut yang berlebih. Pokoknya campur aduk deh. Terutama ketika gondola sedang turun dari puncak. Rasanya badan seperti sedang tergantung meluncur curam ke bawah.
Rasa ngeri selama di gondola terbuka terbayar lunas ketika sampai puncak. Apalagi, hujan salju kembali terjadi ketika itu. Asyik. Menikmati hujan salju di atas hamparan salju. ”Ini keberuntungan. Pekan lalu di sini suhunya minus 15 derajat. Tapi tidak turun salju. Sebaliknya, yang terjadi adalah badai salju. Di Korea, tidak selamanya salju turun di musim dingin. Anda sangat beruntung bisa menikmati hujan salju hari ini,” kata Yoon Jong-won, pemuda Korsel.
Sama seperti saat menikmati bermain salju di Uludak Turki, tahun lalu, ketika badan sudah kedinginan sangat, kami langsung masuk ke restoran yang ada di puncak Elysian. Selain numpang menghangatkan badan, sekalian menikmati segelas cokelat panas dan cemilan khas Korsel. Nikmatnya tak bisa diceritakan. (bersambung/c1)
Editor : Sigit Hariyadi