Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ini Rahasianya, Metode Tunjuk Sebut yang Membuat Perjalanan Kereta Api KAI Semakin Aman

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 25 Oktober 2024 | 16:23 WIB
Masinis melakukan tunjuk sebut saat melihat isyarat semboyan dalam dinasannya.
Masinis melakukan tunjuk sebut saat melihat isyarat semboyan dalam dinasannya.

RadarBanyuwangi.id - Dalam upaya meningkatkan keselamatan operasional, PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah mengadopsi metode "Tunjuk-Sebut" atau dalam bahasa Jepang dikenal sebagai Yubisashi Kanko. 

Metode ini berasal dari Jepang dan menjadi bagian penting dalam budaya kerja personil KAI, terutama bagi masinis dan asisten masinis.

Sejarah dari metode ini cukup unik. Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa metode ini pertama kali digunakan oleh masinis lokomotif uap Jepang bernama Yasoichi Hori, yang mengalami masalah pada penglihatannya saat bertugas. 

Untuk memastikan bahwa sinyal yang dilihatnya benar, Hori menyebutkan status sinyal kepada asisten masinisnya, dengan cara menunjuk dan menyebutkan secara verbal kondisi sinyal tersebut, apakah aman, hati-hati, atau berhenti.

Di Indonesia, metode "Tunjuk-Sebut" pertama kali diterapkan di sektor persinyalan elektrik di wilayah Jabotabek pada tahun 1993. 

Sejak saat itu, budaya disiplin ini terus dikembangkan dan diterapkan di seluruh KAI Group hingga hari ini. 

Meskipun KAI telah banyak mengadopsi teknologi canggih untuk meningkatkan keselamatan perjalanan, metode ini tetap dipertahankan karena terbukti efektif dalam mengurangi kesalahan operasional.

Ada beberapa mekanisme utama yang membuat metode ini begitu efektif:

  1. Fokus dan Konsentrasi: Menunjuk ke arah objek penting seperti sinyal membantu masinis memusatkan perhatian penuh, mencegah gangguan yang bisa berakibat fatal.
  2. Pengurangan Kesalahan: Kombinasi tindakan menunjuk dan menyebutkan status sinyal menciptakan jeda yang mengurangi kemungkinan kesalahan yang dilakukan secara refleksif.
  3. Memori yang Lebih Kuat: Dengan menyebutkan kondisi sinyal secara verbal, ingatan masinis dan asisten masinis akan lebih terasah, memudahkan mereka untuk mengingat tindakan yang tepat.
  4. Deteksi Kesalahan: Penyebutan status sinyal membantu mendeteksi kesalahan lebih cepat, memungkinkan koreksi segera sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
  5. Peningkatan Kesadaran: Kombinasi antara gerakan tangan dan suara merangsang fisik serta mental masinis, menjaga tingkat kewaspadaan yang tinggi selama perjalanan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Railway Technical Research Institute (RTRI) di Jepang menunjukkan bahwa metode ini bisa menurunkan kesalahan operasional hingga 83 persen. 

Bagi kelompok yang tidak menggunakan metode "Tunjuk-Sebut", tingkat kesalahan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang menggunakannya.

Selain diterapkan selama perjalanan, metode ini juga dilakukan sejak tahapan asesmen pra-dinas, memastikan bahwa personil memahami semboyan dan kondisi lintasan yang akan dilalui. 

Anne Purba menekankan bahwa metode ini menjadi bagian penting dalam Standard Operating Procedure (SOP) KAI untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang. (*)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#masinis #operasional #jepang #KAI #Kereta Api