RadarBanyuwangi.id - Pernahkah memperhatikan angka yang tertera di bawah papan nama stasiun di Indonesia. Misalnya, di Stasiun Ketapang tertulis +7 m, di Stasiun Lawang +491 m, atau di Stasiun Malang +444 m.
Ternyata, angka-angka tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan menunjukkan ketinggian stasiun tersebut di atas permukaan laut (mdpl).
Dahulu, informasi ketinggian ini sangat penting untuk perjalanan kereta api, terutama bagi masinis dan bagian operasional.
Ketinggian stasiun membantu menentukan jenis lokomotif yang cocok untuk medan tertentu, terutama jalur-jalur yang menanjak di pegunungan.
Sebab, tidak semua lokomotif uap pada zaman dahulu mampu menarik beban di jalur menanjak. Sehingga perlu menyesuaikan tipe lokomotif berdasarkan sudut kemiringan antar stasiun.
Ketinggian juga membantu bagian operasional untuk memutuskan berapa banyak gerbong atau kereta yang dapat diangkut dan disesuaikan dengan daya tarik lokomotif serta kondisi medan.
Bagi masinis, ketinggian stasiun memberi gambaran apakah jalur di depan akan menanjak, menurun, atau datar. Hal ini krusial untuk mengatur kapan harus menambah daya atau mulai mengerem untuk berhenti dengan aman.
Tanpa informasi ini, risiko selip saat menanjak atau terlambat mengerem bisa terjadi, sehingga mengancam keselamatan perjalanan kereta api.
Namun, seiring perkembangan teknologi, angka-angka ini tidak lagi sepenting dahulu. Masinis kini sudah dibekali dengan data lengkap mengenai jalur yang akan dilalui, dan sistem operasi kereta api modern telah mencatat semua detail mengenai ketinggian dan medan jalur.
Selain itu, rambu-rambu di sepanjang jalur juga membantu masinis memahami apakah lintasan yang akan dilalui akan menanjak, menurun, atau landai.
Di samping itu, mayoritas lokomotif diesel saat ini juga sudah memiliki daya tarik yang relatif sama, yakni rata-rata mulai 1.980 tenaga kuda (horsepower) hingga 2.250 tenaga kuda.
Meski tidak lagi krusial seperti dahulu, angka di bawah papan nama stasiun tetap menjadi bagian dari sejarah dan identitas perkeretaapian Indonesia yang menarik untuk diketahui. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi