RadarBanyuwangi.id - Profesi masinis memang menjadi salah satu pekerjaan yang banyak diminati oleh pencari kerja, namun untuk menjadi masinis membutuhkan proses yang tidak mudah.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus berkomitmen mengembangkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, termasuk dalam hal mendidik calon masinis melalui pelatihan intensif.
Masinis bukan sekadar pengemudi kereta api, tetapi mereka memiliki peran vital dalam memastikan keselamatan dan kelancaran operasional perjalanan kereta api.
KAI menyediakan pelatihan khusus di dua lokasi yaitu Balai Pelatihan Teknik Perkeretaapian (BPTP) Sofyan Hadi di Bekasi, yang dikhususkan untuk kereta api berpenggerak listrik, serta Balai Pelatihan Teknik Traksi (BPTT) Darman Prasetyo di Yogyakarta untuk non-listrik.
Anne Purba, Vice President Public Relations KAI, menjelaskan bahwa masinis memegang tanggung jawab besar dalam menjalankan kereta api sesuai jadwal, menjaga kecepatan, dan memberikan pengalaman perjalanan yang aman dan nyaman bagi para penumpang.
Menjadi masinis tidaklah semudah yang dibayangkan. Perjalanan dimulai dengan melalui serangkaian seleksi ketat dari ribuan pelamar.
Setelah lolos seleksi, calon pekerja harus menjalani pendidikan selama sekitar 8 bulan. Pendidikan ini mencakup Pembentukan Pribadi Efektif (PPE) selama 2 minggu, Diklat Awak Sarana Perkeretaapian Tingkat Pratama selama 2,5 bulan, serta serangkaian praktik, termasuk di Dipo dan Langsir.
Selama proses pendidikan, calon masinis harus lulus berbagai tes akhir untuk mendapatkan sertifikat kelulusan. Setelah itu, mereka akan melangkah ke berbagai tingkat pelatihan dan tanggung jawab, seperti:
- Awak Sarana Perkeretaapian (ASP) Tingkat Pratama: Bertugas sebagai asisten masinis dengan menjalani 2.000 jam perjalanan kereta api.
- ASP Tingkat Muda: Setelah lulus tes, calon masinis mengoperasikan kereta api secara reguler dan harus menyelesaikan 8.000 jam perjalanan.
- ASP Tingkat Madya: Masinis tingkat ini akan menjalani tes tambahan dan pelatihan selama lebih dari 1 tahun, hingga akhirnya dapat menjadi penyelia atau instruktur.
Selain pelatihan teknis, calon masinis juga harus menjalani uji kecakapan untuk memastikan mereka memenuhi standar operasional perkeretaapian. Uniknya, kesempatan berkarir sebagai masinis terbuka untuk semua gender.
KAI telah membuka peluang bagi perempuan untuk menjadi masinis, dengan sudah ada tiga perempuan yang berkarir di posisi ini.
Ketatnya persyaratan dan proses yang panjang membuat profesi masinis begitu dihormati, karena tanggung jawab yang besar dalam menjaga keamanan dan kenyamanan penumpang. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi