RadarBanyuwangi.id – Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen menjadi primadona bagi wisatawan mancanegara (wisman) asal China atau Tiongkok.
Dalam sebulan terakhir ini, wisatawan dari Negeri Tirai Bambu seolah ”menguasai” puncak Ijen. Mereka merupakan wisatawan dengan trip Gunung Bromo, Ijen, dan finis di Bali.
Berbeda dengan turis dari Eropa, wisatawan asal Tiongkok tidak memiliki musim-musim khusus untuk berlibur ke luar negeri.
Yang menarik, ketika sudah berada di puncak Ijen dekat kawah, ada yang mengibarkan bendera nasional Republik Rakyat Tiongkok warna merah dengan lima bintang.
”Turis Tiongkok bisa datang ke negara mana pun sepanjang tahun, termasuk saat liburan ke Indonesia,” ujar Ketua DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Banyuwangi Andika Rahmat Hidayat.
Dikatakan Andika, wisatawan Tiongkok menyukai destinasi wisata alam, seperti Kawah Ijen atau De Djawatan. Namun, bagi mereka yang datang belakangan, lebih memilih Ijen.
”Mereka ini suka selfie, jadi datang hanya untuk foto-foto saja dan membuat konten. Mereka juga cenderung selektif, jadi mungkin di Banyuwangi hanya makan saja. Tidak beli oleh-oleh kemudian langsung ke Bali,” papar Andika.
Membanjirnya wisatawan Tiongkok rupanya juga diamati oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.
Meski tak mendapat keuntungan dari retribusi pendakian Ijen, wisatawan Tiongkok tetap menggunakan jasa tour guide dan transportasi dari Banyuwangi sehingga tetap berdampak pada perputaran uang.
Dari data yang dilaporkan ke Disbudpar Banyuwangi, ada 11.525 wisatawan mancanegara yang datang ke Banyuwangi pada Juli.
Angkanya meningkat menjadi 14.731 pada Agustus. Sedangkan untuk September ini belum sepenuhnya data masuk sehingga belum bisa memprediksi pola yang terjadi.
Jika ditotal selama tiga bulan, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Banyuwangi mencapai 34.771 orang.
”Seharusnya sejak Ijen dibuka kembali, jumlah kunjungan naik. Tapi, kita tidak bisa memilah dari negara mana wisatawan tersebut,” ujar Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Taufik Rohman.
Kedatangan wisatawan Tiongkok juga dipicu peristiwa kecelakaan wisatawan yang tercebur ke jurang kawah pada April 2024 lalu.
Kejadian itu menimbulkan rasa penasaran bagi warga Tiongkok lainnya. Umumnya orang takut setelah ada kejadian tersebut, tapi wisatawan Tiongkok justru sebaliknya.
Peristiwa yang dianggap viral itu justru menarik perhatian warga Tiongkok lainnya. Secara tidak langsung Kawah Ijen menjadi terpromosikan akibat kejadian tersebut.
”Perputaran uang lebih di belanja makanan, kalau menginap jarang. Mereka ke sini hanya fokus ke Ijen, mungkin hanya beberapa orang yang mengunjungi destinasi lain,” kata Taufik.
Salah seorang guide Ijen, Billy Joe Nugroho menuturkan, tren kunjungan wisatawan dari Tiongkok ke Ijen sudah berlangsung lama.
Mulai setahun terakhir kunjungan wisman asal Tiongkok sudah meningkat. Ada yang datang secara rombongan maupun perorangan.
”Alurnya dari Bromo, Tumpak Sewu (Malang), terus ke Ijen, selanjutnya ke Bali,” kata guide asal Kelurahan Temenggungan itu.
Ada yang mendaki Ijen dengan berjalan kaki maupun menggunakan jasa troli. Kalau yang bujetnya minim biasanya memilih berjalan kaki, sebaliknya yang kantongnya tebal biasanya naik troli pulang pergi dengan ongkos sekitar Rp 1 juta.
”Sebelum ada insiden wisatawan China jatuh ke jurang kawah hingga tewas, kunjungan ke Ijen memang sudah ramai. Menurut saya bukan karena viralnya wisatawan China yang tewas,” kata Billy. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin