Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Lokomotif CC 206 13 18 Awali Perjalanan Perdana Kereta Api Blambangan Ekspres Tujuan Jakarta, Ini Sederet Keunggulannya

Lugas Rumpakaadi • Sabtu, 27 Juli 2024 | 03:00 WIB
Lokomotif CC 206 13 18 berdinas perjalanan perdana KA Blambangan Ekspres tujuan Stasiun Pasar Senen, Jakarta.
Lokomotif CC 206 13 18 berdinas perjalanan perdana KA Blambangan Ekspres tujuan Stasiun Pasar Senen, Jakarta.

RadarBanyuwangi.id - Pada perjalanan perdana Kereta Api (KA) Blambangan Ekspres dari Stasiun Ketapang ke Stasiun Pasar Senen, lokomotif penariknya turut menjadi sorotan.

Lokomotif ini akan berdinas membawa rangkaian KA Blambangan Ekspres sejauh 1.031 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 16 jam.

Untuk membawa rangkaian sejauh itu, diperlukan performa lokomotif yang andal agar perjalanan KA lancar dan tidak terjadi kendala yang bisa mengurangi kenyamanan penumpang.

Pada perjalanan perdana KA Blambangan Ekspres dengan rute Ketapang-Pasar Senen, lokomotif yang berdinas adalah CC 206 13 18 milik Depo Lokomotif Sidotopo, Surabaya.

Makna dari penomoran lokomotif itu adalah CC artinya memiliki 6 gandar penggerak, 206 yakni nomor seri lokomotif, 13 berarti tahun awal berdinas yakni 2013, dan 18 nomor urut berdasarkan tahun berdinas.

Lokomotif CC 206 merupakan jenis lokomotif diesel elektrik yang diproduksi oleh General Electric Transportation di Amerika Serikat dan dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI).

CC 206 memiliki konfigurasi C-C (Co'Co') dengan tiga roda penggerak pada setiap bogie dan dilengkapi dengan dua kabin masinis di kedua ujungnya, mirip dengan desain lokomotif di Eropa.

Lokomotif ini dirancang untuk keperluan angkutan barang dan penumpang di Pulau Jawa, sedangkan di Sumatera Selatan hanya digunakan untuk angkutan barang.

CC 206 menawarkan tenaga yang lebih besar dan emisi gas buang yang lebih rendah dibandingkan pendahulunya.

Dengan berat mencapai 90 ton dan beban gandar sebesar 15 ton, jalur rel di Jawa telah disesuaikan untuk mendukung operasional lokomotif ini.

Lokomotif berkabin ganda pertama di Indonesia telah ada sejak lama, namun model-model lama seperti CC 200, BB 301, BB 304, dan BB 305 sudah tidak beroperasi karena usia mereka yang sudah lebih dari 30 tahun.

Pada awal 2000-an, PT KAI merencanakan pemesanan lokomotif yang kuat dengan teknologi terbaru.

Pada tahun 2010, muncul ide untuk memesan lokomotif CC 206 guna menambah armada yang kuat dan berkabin ganda.

Pengadaan lokomotif CC 204 dinilai kurang efisien karena jumlah produksinya sedikit setiap tahun, sementara kebutuhan akan lokomotif sangat tinggi.

Oleh karena itu, pada tahun 2012, PT KAI memesan seratus unit lokomotif CC 206 dari General Electric dengan nilai kontrak sebesar Rp4 triliun.

Pemasangan bogie dilakukan oleh PT Barata Indonesia.

Pengiriman lokomotif ini dilakukan secara bertahap melalui Pelabuhan Tanjung Priok dan kemudian dirakit di Balai Yasa Yogyakarta.

Pada tahun 2015, PT KAI kembali memesan 50 unit tambahan, di mana 39 unit tiba pada tahun yang sama dan sisanya pada tahun 2016.

Lokomotif ini kini digunakan untuk keperluan angkutan penumpang dan barang.

Desain lokomotif CC 206 memiliki kemiripan dengan lokomotif Class 2800 milik Queensland Rail di Australia dan lokomotif China Railways HXN5 di China serta Indian Locomotive Class WDG-4G di India.

Lokomotif ini dilengkapi dengan mesin delapan silinder GE 7FDL-8, menghasilkan daya 2250 hp, dan memiliki emisi gas buang lebih rendah.

CC 206 juga dilengkapi dengan sistem elektronik GE BrightStar™ Sirius dan layar monitor GE Integrated Function Display™ (GE IFD), menjadikannya lokomotif pertama di Indonesia yang menggunakan layar monitor komputer kendali kedua setelah CC 205.

Oleh penggemar kereta api, lokomotif ini juga dikenal dengan klaksonnya yang khas dan lebih keras, dijuluki "Si Puong" atau "Puongs".

Lokomotif CC 206 memiliki kapasitas angkut yang besar, mampu menarik hingga 20 gerbong terbuka 50 ton, 33-35 gerbong datar, gerbong ketel, gerbong tertutup, atau 16 kereta penumpang dengan satu lokomotif penarik.

Generasi pertama lokomotif ini ditempatkan di berbagai depo induk di Pulau Jawa untuk angkutan penumpang dan barang, kecuali di Depo Induk Madiun dan Jember.

Lokomotif generasi kedua dialokasikan di Jawa dan Sumatera Selatan untuk keperluan angkutan batubara.

Dengan segala keunggulannya, lokomotif CC206 menjadi tulang punggung operasional kereta api di Indonesia, khususnya untuk angkutan barang dan penumpang di Pulau Jawa serta angkutan batubara di Sumatera Selatan. (*)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#pt kai #Blambangan Ekspres #Kereta Api #CC 206 #lokomotif