Sesuai data dari Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA), vulkanik dangkal dengan kekuatan amplitudo 25 milimeter (mm) per 10 detik. Sedangkan tekanan tektonik jauh 20–47 mm per 60 hingga 74 detik.
Selain aktivitas tersebut, suhu udara di Ijen mencapai 16–24 derajat Celsius. Sedangkan kelembapan udara dari 70–84 persen.
”Untuk aktivitas pendakian TWA Ijen sejauh ini masih ditutup, para pengunjung TWA juga tidak boleh menginap di radius 1,5 kilometer dari kawah,” ujar Kepala Bidang KSDA Wilayah III pada BBKSDA Jatim Purwantono.
Sejumlah tour guide melaporkan, sejak pendakian ditutup pada 12 Juli, wisatawan ke Ijen berkurang. Padahal, kedatangan mereka ke Ijen untuk menyaksikan pemandangan langka api biru (blue fire) di dekat kawah Ijen.
Praktis, ketika ada larangan naik ke puncak, wisatawan tidak ada yang berani mendaki. Mereka cukup berada di kawasan Paltuding sembari menghangatkan tubuh di dekat api unggun.
”Larangan mendaki Ijen masih berlaku. Wisatawan yang kami bawa akhirnya saya alihkan ke Kawah Wurung yang lokasinya di sebelah barat Paltuding,” ujar Ipul, salah seorang tour guide yang kerap mendampingi wisatawan mancanegara naik Ijen.
Ipul mengungkapkan, saat ini di kawasan Ijen sedang dilanda suhu ekstrem. Pada malam hari suhu di sekitar Paltuding bisa mencapai 11 derajat Celsius. ”Dingin banget, Mas. Kalau musim bediding ya seperti ini kondisinya,” kata Ipul.
Kepala Bidang KSDA Wilayah III pada BBKSDA Jatim Purwantono menjelaskan, antivitas mikrotremor teredam dengan amplitudo dari 4–20 mm atau dominan 5 mm. Makanya yang sangat perlu diwaspadai, potensi keluarnya gas berbahaya dari danau Kawah Ijen. ”Status TWA Ijen sampai saat ini masih di level waspada,” tandasnya.
Terkait suhu udara, saat ini mencapai 16–24 derajat Celsius. Suhu tersebut berbeda antara malam hari maupun siang hari. ”Untuk malam hari sekitar 16 derajat Celsius, sedangkan siang masih sekitar 24 derajat,” ungkapnya.
Berdasarkan pantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi, dinginnya suhu udara disebabkan adanya monsun dingin Australia. ”Fenomena suhu dingin yang biasa terjadi di musim kemarau disebut dengan bediding,” ujar prakirawan BMKG Banyuwangi Rezky P. Hartiwi.
Rezky menjelaskan, suhu udara menjadi sangat dingin menjelang malam hingga pagi. Penyebabnya adalah wilayah Australia berada dalam periode musim dingin sehingga tekanan udara tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau biasa disebut dengan monsun dingin Australia.
”Akibatnya, suhu di beberapa wilayah di Indonesia, terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara) terasa lebih dingin, khususnya pada malam hingga pagi hari,” jelasnya.
Rezky menambahkan, fenomena tersebut kemungkinan terjadi hingga bulan September selama musim kemarau. ”Fenomena bediding terjadi kemungkinan sampai September mendatang,” pungkasnya.
Seperti diketahui, aktivitas wisata di TWA Ijen untuk sementara ditutup total. Penutupan dilakukan menyusul adanya peningkatan aktivitas vulkanik di gunung yang memiliki ketinggian 2.386 meter di atas permukaan laut (mpdl) tersebut.
Penutupan dilakukan sejak Jumat (12/7) hingga batas waktu yang belum ditentukan. Penutupan dilakukan karena status Ijen naik dari level I (normal) menjadi level II (waspada) per Jumat (12/7) pukul 22.00. (rio/aif/c1)
Editor : Niklaas Andries