RadarBanyuwangi.id - Isu reaktivasi jalur kereta api (KA) Kalisat-Panarukan sepanjang 70 kilometer kembali terdengar.
Rencananya, jalur KA itu menjadi prioritas pemerintah, dari total lima jalur KA di Jawa Timur untuk diaktifkan setelah mati suri sejak 2004.
Adanya rencana tersebut, membuat dua stasiun KA di Kabupaten Situbondo, yang kondisinya kini terbengkalai, punya harapan untuk kembali ramai.
Stasiun Situbondo yang biasa dikenal sebagai Stasiun Sumberkolak, pernah menjadi pusat aktivitas KA pada zamannya karena dekat dengan pusat Kota Santri.
Terletak di ketinggian 30 meter di atas permukaan laut, Stasiun Situbondo menjadi bagian penting dari megaproyek Staatspoorwegen yang konsesinya telah dikeluarkan sejak 23 Juni 1893.
Saat masih beroperasi, ada satu kereta api lokal jurusan Jember-Panarukan PP yang berhenti di Stasiun Situbondo.
Tentu saja, ini pernah menjadi pusat kegiatan transportasi bagi masyarakat lokal pengguna jasa KA.
Namun seiring perkembangan zaman, prasarana yang tua dan kalah bersaing dengan moda transportasi lain, membuat stasiun ini ditutup pada tahun 2004.
Kondisi Stasiun Situbondo sekarang bangunannya masih utuh dan ditempati seseorang.
Sedangkan bagian emplasemen sudah berubah menjadi padang rumput.
Sementara itu, Stasiun Panarukan di Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo posisinya tak jauh dari pantai.
Stasiun ini pernah menjadi pusat perekonomian pada zamannya karena letaknya yang tidak jauh dari Pelabuhan Panarukan.
Stasiun Panarukan dulu merupakan titik akhir dari jalur KA Kalisat-Panarukan.
Stasiun ini memiliki dua jalur kereta api dengan jalur 1 sebagai sepur lurus.
Tak hanya itu, Stasiun Panarukan juga dilengkapi dengan gudang dan lima sepur simpan untuk kegiatan bongkar muat barang.
Hal unik dari stasiun ini adalah arsitekturnya memiliki kemiripan dengan Stasiun Situbondo.
Maklum, kedua stasiun ini dibangun oleh Staatspoorwegen (SS) pada waktu bersamaan dan dibuka pada 1897.
Namun, seiring perubahan zaman, aktivitas Stasiun Panarukan perlahan-lahan meredup. Pelabuhan Panarukan, yang pernah menjadi pusat kegiatan ekspor – impor, kini sepi akibat sedimentasi dari Sungai Sampeyan.
Selanjutnya pada tahun 1980-an, arus ekspor beralih ke Pelabuhan Tanjung Wangi di Banyuwangi, dan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya.
Puncaknya, pada tahun 2004 silam, jalur KA ini resmi ditutup oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) karena sarana yang sudah tua dan kurangnya fasilitas di Daerah Operasional (Daop) 9 Jember. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi