Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengenang Kejayaan Stasiun Argopuro yang Dibangun Era PJKA, Kini hanya Dilewati KA

Lugas Rumpakaadi • Senin, 10 Juni 2024 | 18:01 WIB
TIDAK BERHENTI: Kereta Api Pandan Wangi melintas langsung di Stasiun Argopuro yang kini tidak lagi melayani aktivitas naik-turun penumpang.
TIDAK BERHENTI: Kereta Api Pandan Wangi melintas langsung di Stasiun Argopuro yang kini tidak lagi melayani aktivitas naik-turun penumpang.

RadarBanyuwangi.id - Keberadaan Stasiun Argopuro di Kecamatan Kalipuro tak lepas dari inisiatif pemerintah Orde Baru. Pada masa itu, stasiun ini berguna untuk mempermudah akses transportasi angkutan barang.

Inisiatif memperlancar distribusi barang pada masa itu muncul bersamaan dengan misi Indonesia untuk swasembada pangan. Ini diwujudkan dengan penyediaan pupuk kimia oleh pemerintah.

Angkutan pupuk dari Unit Pengantongan Pupuk (UPP) dari Kota Surabaya dikirim ke gudang di Banyuwangi menggunakan moda kereta api (KA).

Saat itu, jalur kereta api di Banyuwangi masih menggunakan jalur peninggalan Staatspoorwegen, perusahaan milik pemerintah Kolonial Belanda, yang dibuka pada tahun 1903 dan membentang dari Stasiun Kalisat hingga Stasiun Banyuwangi (lama).

Dari sana, angkutan pupuk dan barang kemudian diantar dengan kereta api hingga kawasan Pelabuhan Boom.

Hanya, karena proses sedimentasi di sana, akhirnya pemerintah membangun Pelabuhan Tanjung Wangi (Pelabuhan Meneng). Pemindahan pelabuhan itu berdampak pada aktivitas ekspor impor dan distribusi pupuk berpindah. Sehingga pemerintah berupaya membuat jalur baru KA hingga Pelabuhan Tanjung Wangi.

Proses pembuatan jalur KA baru yang membentang dari Stasiun Kabat hingga Pelabuhan Tanjung Wangi itu berlangsung di awal tahun 1980-an. Jalur ini mulai beroperasi pada 1985.

Di sepanjang jalur baru itu, ada tiga stasiun baru yang dibangun yaitu Stasiun Karangasem (sekarang Banyuwangi Kota), Stasiun Argopuro, dan Stasiun Banyuwangi Baru (sekarang stasiun Ketapang).

 Baca Juga: Sejarah Stasiun Situbondo yang Dekat Pusat Kota Santri Tapi Kini Terbengkalai

Inilah juga yang menjelaskan mengapa bentuk desain arsitektur asli Stasiun Banyuwangi Kota dan stasiun Argopuro sangat identik. Karena memang dibangun di waktu yang hampur bersamaan.

Stasiun Argopuro sempat melayani naik-turun penumpang sejak awal dibuka hingga sekitar tahun 2021. Sesuai perubahan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) yang berlaku pada 10 Februari 2021, stasiun kecil ini akhirnya tidak lagi melayani naik-turun penumpang.

Saat ini, Stasiun Argopuro hanya dilewati KA lokal dan KA jarak jauh serta difungsikan sebagai lokasi persilangan atau penyusulan kereta api.

Meskipun hanya memiliki dua jalur, dengan sepur lurus di jalur 2 dan sepur belok di jalur 1, emplasemen Stasiun Argopuro adalah yang terpanjang di wilayah PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 9 Jember, yaitu sepanjang 500 meter. (gas/bay)

Editor : Salis Ali Muhyidin
#PJKA #Argopuro #kalipuro #stasiun #orde baru #banyuwangi