RadarBanyuwangi.id – Mayoritas masyarakat Indonesia akan menjawab, tanggal 20 Mei sebagai peringatan Hari Kebangkitan Nasional.
Namun, tidak hanya itu, rupanya 20 Mei juga menjadi tanggal lahir dua kereta api penumpang yang dioperasikan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yaitu Gumarang dan Harina.
Kereta Api Gumarang pertama kali diluncurkan pada 20 Mei 2001 dengan rute Stasiun Jakarta Kota - Surabaya Pasarturi PP lewat Stasiun Gambir.
Nama Gumarang diambil dari sosok hewan mitologi yaitu banteng gagah dan berani dalam mitologi Jawa
Sejak awal beroperasi, Kereta Api Gumarang melayani kelas eksekutif dan bisnis dengan jadwal perjalanan sore hari melintasi jalur utara Pulau Jawa.
Seiring berjalannya waktu, Kereta Api Gumarang dialihkan perjalanannya ke Stasiun Pasarsenen hingga sekarang.
Dengan adanya penambahan sarana kereta di Depo Kereta Jakarta Kota daru depo kereta lainnya, Kereta Api Gumarang kemudian beroperasi dengan rangkaian panjang.
Kereta Api Gumarang saat ini membawa lima kereta kelas eksekutif dan sembilan kereta kelas bisnis dalam satu rangkaian.
Ini menjadikan Gumarang sebagai kereta api kelas campuran terpanjang, yaitu membawa 14 kereta dalam satu rangkaian.
Berselang dua tahun kemudian, tepatnya pada 20 Mei 2003, KAI kembali meluncurkan sebuah kereta api penumpang yang diberi nama Harina.
Kereta Api Harina melayani rute Bandung – Surabaya Pasarturi PP lewat Cikampek atau melintas jalur utara Pulau Jawa.
Nama Harina diambil dari bahasa Sanskerta, yang berarti “Antelop India betina”.
Pada awalnya, Kereta Api Harina melayani rute Bandung – Semarang Tawang.
Setelah KAI melakukan penyusunan ulang grafik perjalanan kereta api (Gapeka), rute Harina kemudian diperpanjang hingga Stasiun Surabaya Pasarturi per 1 Maret 2013.
Bersamaan dengan itu, operasional Kereta Api Rajawali yang melayani rute Semarang Tawang – Surabaya Pasarturi PP juga dihentikan.
Kereta Api Harina awalnya merupakan penerus dari Kereta Api Mahesa rute Bandung - Semarang Tawang melalui lintas selatan Jawa.
Namun, pengoperasian Kereta Api Mahesa dihentikan karena jarak tempuh yang terlalu panjang serta animo masyarakat minim untuk menggunakan layanan kereta api ini.
Kereta Api Harina pernah memiliki frekuensi perjalanan sebanyak dua kali perjalanan pulang-pergi, pagi dan malam.
Karena tingkat keterisian yang minim, pengoperasian Kereta Api Harina pagi dihentikan per 1 November 2011.
Kereta Api Harina saat ini beroperasi dengan membawa rangkaian kereta kelas campuran, yaitu kelas eksekutif dan ekonomi premium. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi