RadarBanyuwangi.id – Jumlah pengunjung di lokasi wisata Pantai Pulau Merah, Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, terus menurun.
Sejumlah lapak milik para pedagang, banyak yang melompong pada Jumat (17/5).
Salah satu pedagang, Maesaroh, 37, asal Dusun Pancer, Desa Sumberagung, mengatakan hanya segelintir pedagang yang aktif dan membuka lapaknya saat hari normal.
“Sekarang hari biasa tidak banyak yang membuka lapak,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Ibu dua anak itu menyampaikan, Pantai Pulau Merah ini saat ini ramai kalau hari libur atau weekend.
Sehingga, hari biasa pengunjung sangat sepi. Maka, para pedagang juga banyak yang memilih tutup.
“Saya tetap jualan, sekarang hari biasa pengunjung sepi,” ujarnya.
Saat hari biasa, Maesaroh mengaku hanya mampu memperoleh pendapatan Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per hari.
Tapi bila hari libur atau weekend, bisa meraup penghasilan sampai Rp 1 juta dalam sehari.
“Berapapun hasilnya, tetap disyukuri,” cetusnya.
Meski okupansi pengunjung paling banyak saat hari libur atau weekend, di hari biasa tetap ada pengunjung yang datang, terutama setelah duhur.
Mereka itu datang untuk melihat matahari tenggelam (sunset). “Hari biasa itu ramainya mulai siang sampai sore untuk melihat sunset, ini terutama anak-anak muda,” terangnya.
Maesaroh menyebut, Banyuwangi yang dikenal sebagai kota wisata, memiliki banyak destinasi. Dan itu, membuat pengunjung Pantai Pulau Merah tidak sebanyak dulu.
“Tapi Alhamdulillah, Pulau Merah tetap digandrungi masyarakat,” ucapnya bersyukur.
Salah satu pengunjung, Nia Rismawati, 34, asal Dusun Curahpecak, Desa/Kecamatan Purwoharjo, mengaku berlibur ke Pulau Merah karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Selain itu, anaknya juga sedang libur sekolah.
“Kondisinya tidak terlalu ramai, jadi lebih leluasa untuk main,” ungkapnya.
Nia mengaku cukup sulit untuk membeli makanan ringan. Sebab, jejeran lapak pedagang banyak yang kosong.
“Variasi makanan yang bisa dibeli jadi lebih sedikit, mungkin karena bukan waktu libur ya,” katanya.(rei/abi)
Editor : Salis Ali Muhyidin