RadarBanyuwangi.id – Jasa troli di Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen Banyuwangi makin digandrungi oleh para wisatawan yang, berkunjung.
Sebab, troli yang sebenarnya digunakan untuk mengangkut belerang itu kini "disulap" menjadi angkutan bagi wisatawan yang tidak sanggup jalan kaki mendaki Gunung Ijen yang berada di ketinggian 2.386 meter di atas permukaan laut (mpdl).
Padahal, tarif yang dikenakan untuk menumpang troli itu tidak murah, rata-rata satu kali trip naik-turun dibanderol Rp 1,5 juta, dengan rincian ongkos naik Rp 1 juta, sedangkan turun ditarik Rp 500 ribu.
Tetapi, peminat kendaraan gunung ini sangat banyak, meski tarif yang dikenakan lumayan tinggi.
Maklum untuk mendaki Kawah Ijen dengan berjalan kaki memang butuh perjuangan berat bagi wisatawan dengan tubuh yang gemuk atau berusia lanjut, bahkan anak-anak.
Nah, troli ini menjadi solusi praktis untuk mengurangi rasa capek menempuh perjalanan sejauh 4 kilometer yang menanjak dan butuh waktu 1,5 jam.
Sejarah adanya troli di rute pendakian Kawah Ijen diawali dari bantuan seorang turis Prancis pada tahun 2014 silam.
Saat itu, sejumlah troli disumbangkan kepada para penambang belerang untuk mengangkut belerang turun dari puncak Kawah Ijen ke lokasi penimbangan.
Siapa sangka jika sekarang fungsi troli beralih menjadi angkutan wisatawan menuju puncak Kawah Ijen.
Untuk memberikan kenyamanan bagi wisatawan saat duduk, troli kini sudah dimodifikasi dengan alas dan bantalan busa setebal 10 centimeter.
Pro kontra komentar terkait beroperasinya troli dengan tarif Rp 1,5 juta ini sempat mengemuka di akun instagram @ijenexpeditiontour dan @jalankebanyuwangi yang memposting video wisatawan naik troli di Kawah Ijen saat liburan weekend.
"Setidaknya warga di situ bisa tertolong dengan pekerjaan yang halal, yang penting wisatawan juga merasa tidak dirugikan," komentar akun instagtam @agus.sampurna.735 di kolom komentar instagram @ijenexpeditiontour.
Netizen juga mengaitkan soal troli dengan rencana pembangunan kereta gantung di kawasan TWA Kawah Ijen.
"Kalau pakai kereta gantung, warga sekitar malah tidak dapat pemasukan," komentar @anies88 di kolom komentar instagram @jalankebanyuwangi.
Ada lagi yang usul kepada pemerintah agar membina para penarik troli di Kawah Ijen.
"Tugas pemerintah tinggal menyeragamkan tarif, pakaian, safety, dan becaknya. Tidak usah bikin kereta gantung malah jadi lahan korupsi proyeknya," timpal @indramacheda di kolom komentar instagram @jalankebanyuwangi.
Rupanya pembinaan terhadap Paguyuan Troli Wisata yang beranggotakan 169 orang telah dilakukan secara intens oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur.
Di laman bbksdajatim.org disebutkan bahwa Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW) 18 Kawah Ijen Sigit Haribowo telah mengumpulkan anggota Paguyuban Troli Wisata untuk mensosialisasikan aturan main.
Berikut ini aturan main yang harus diterapkan oleh penyedia jasa troli wisata:
- Penyedia jasa troli harus memiliki ijin usaha dari pengelola kawasan
- Penyedia usaha troli harus bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung
- Harus melakukan pengecekan troli wisatanya secara rutin
- Bersedia menjaga kelestarian kawasan cagar alam dan TWA Kawah Ijen.
Hingga kini usaha jasa menarik troli wisata ini semakin berkembang dan menyerap banyak tenaga kerja, terutama ketika peak season atau musim liburan.
Maklum, satu troli bisa membutuhkan 2-3 orang untuk mendorong dan menarik ketika perjalanan naik ke puncak Kawah Ijen, apalagi kalau penumpangnya berbadan besar.
Minat wisatawan untuk menyewa jasa troli juga semakin tinggi, meski tarifnya lumayan mahal.
Bagi sebagian wisatawan, tarif troli itu akan tertebus ketika bisa menyaksikan keindahan danau air asam di Kawah Ijen yang memiliki luas 5.476 hektare, diameter 1 kilometer, dan kedalaman 200 meter.
Apalagi, wisatawan yang berhasil menikmati pemandangan blue fire yang cuma ada 2 di dunia, selain di Gunung Dallol Ethiopia. (irw)
Editor : Ali Sodiqin