Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sejak Dibuka Desember 2023, Ratusan Pendaki Asing dan Domestik Serbu Gunung Raung

Gareta Yoga Eka Wardani • Senin, 13 Mei 2024 | 17:06 WIB

RAMAI: Puluhan pendaki di pos pendakian Gunung Raung jalur Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru Minggu (12/5).
RAMAI: Puluhan pendaki di pos pendakian Gunung Raung jalur Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru Minggu (12/5).
Radarbanyuwangi.id - Long weekend dimanfaatkan betul oleh para penggila pendakian gunung. Sejak dibuka kembali pada Desember lalu, ratusan pendaki dari berbagai daerah di Indonesia berdatangan untuk naik ke Gunung Raung, via Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Minggu(12/9).

Terhitung sejak Desember tahun lalu, tercatat ada ratusan pendaki yang naik ke gunung berapi dengan ketinggian 3.332 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu.

“Ada sekitar 500 pendaki,” kata petugas Sekretariat Pendakian Gunung Raung di Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Eko Wahyudianto.

Menurut Eko, ratusan pendaki gunung itu tidak hanya berasal dari Bumi Blambangan, tetapi juga banyak dari berbagai penjuru kota di Indonesia.

“Long weekend seperti ini paling banyak yang datang pendaki lokal, memanfaatkan waktu libur yang ada,” katanya.

Meski mayoritas pendaki lokal, terang dia, pendaki yang datang itu juga ada sejumlah warga negara asing (WNA) yang mencoba menaklukan puncak Gunung Raung. “Kemarin ada dua WNA dari Belanda yang ikut mendaki,” ucapnya.

Waktu yang paling digemari para pendaki lokal untuk mencapai puncak Gunung Raung, jelas dia, itu saat liburan, seperti cuti kerja, libur nasional, atau hari kemerdekaan.

“Pendaki lokal paling banyak memilih saat hari kemerdekaan, karena nanti bisa foto di atas puncak dengan membawa bendera merah putih,” cetusnya.

Beda lagi dengan waktu yang digemari para pendaki dari luar negeri. Para bule biasanya memilih mendaki Gunung Raung saat musim kemarau. “Pendaki dari manca negara pasti bertanya  musim dulu sebelum naik,” katanya.

Para pendaki dari luar negeri itu menimbang resiko yang mungkin terjadi, ketika mendaki gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa itu. “Sampai saat ini paling banyak pendaki dari Malaysia, yang lainnya biasanya dari Prancis dan Singapura,” paparnya.

Saat musim hujan, jelas dia, jumlah pendaki dari manca negara tidak ada. Dan itu membuat jumlah pendaki di Gunung Raung mengalami penurunan.

“Musim penghujan beresiko untuk mendaki, jumlah trip berkurang,” lanjutnya.

Eko menyebut, Gunung Raung itu lokasi pendakian terekstrem di Pulau Jawa. Oleh karena itu, saat akan mendaki sarana dan prasarana harus dipenuhi. “Jika di Gunung Semeru dan Rinjani tidak perlu alat clambing, kalau di Gunung Raung harus memakai alat clambing lengkap,” jelasnya.

Sekadar untuk diketahui, Gunung Raung memiliki empat puncak, u puncak bendera, puncak tusuk gigi, puncak 17, dan yang tertinggi puncak sejati.

Dari empat puncak itu, para pendaki menargetkan sampai ke puncak sejati sebagai tujuan pendakian. “Mayoritas pendaki menargetkan puncak sejati yang ada monumen di sana, sekaligus sebagai yang tertinggi,” ucapnya.(rei/abi)

Editor : Niklaas Andries
#trip #puncak #pendaki #pulau jawa #rinjani #tusuk gigi #sejati #asing #bendera merah putih #cuti kerja #gunung semeru #gunung raung #Libur Panjang #banyuwangi #domestik