RadarBanyuwangi.id – Selama bulan suci Ramadan 2024, minat pendakian di Gunung Raung melalui Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatn Kalibaru turun drastis.
Tapi, jalur pendakian ke gunung dengan ketinggian 3.332 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu tetap dibuka dan akan ditutup pada Senin (1/4).
Selama Ramadan ini, orang yang mendaki ke puncak Gunung Raung menurun hingga 70 persen. Dan itu, berpengaruh terhadap pendapatan para tour guide pendakian.
“Minat pendaki selama bulan puasa memang turun, menurunnya sampai 70 persen, ” kata petugas Sekretariat Pendakian Gunung Raung di Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Eko Wahyudianto.
Eko yang juga guide pendakian ini menyampaikan, selama Ramadan ini hanya mengantarkan tiga kali pendakian dengan jumlah pendaki 21 orang.
Menurutnya, trip ketiga yang dilakukan pada Selasa (26/3) dan itu yang terakhir sebelum jalur pendakian ditutup pada Senin (1/4) mendatang.
“Di luar Ramadan dalam sepekan bisa mengantarkan beberapa trip hingga berjumlah 60 orang,” ujarnya.
Penurunan minat pendakian, terang dia, tidak hanya disebabkan momen Ramadan. Status Gunung Raung yang saat ini waspada atau level II, juga menjadi faktor berkurangnya jumlah pendakian.
“Sebenarnya status Gunung Raung tidak terlalu berpengaruh, tetapi memang menjadi atensi khusus kami,” katanya.
Status Gunung Raung waspada atau level II ini, jelas dia, terjadi sejak Desember 2023, dan itu belum berubah sampai sekarang.
Mengetahui status itu, lanjut Eko, para pendaki tidak terlalu ambil pusing dan tetap memilih mendaki dengan berbagai syarat dan memperhatikan imbauan para tour guide.
“Kami sudah menjelaskan berbagai hal terkait status Gunung Raung, para pendaki masih menginginkan untuk naik,” katanya.
Terkait dengan status Gunng Raung, Eko mengaku selalu berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon.
Itu dilakukan untuk memastikan keselamatan para pendaki.
“Kalau tour guide bilang tidak bisa naik, ya pendaki harus menurut, semua itu demi keamanan bersama,” ucapnya.(rei/abi)
Editor : Salis Ali Muhyidin