Radarbanyuwangi.id – Menjalani ibadah puasa Ramadan di negeri orang, bukan hal yang mudah.
Itulah yang kini dijalani Rektor IAI Ibrahimy Genteng, Dr H Lukman Hakim yang mendapatkan undangan dari Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Hong Kong.
Selama Ramadan, lelaki yang juga menjabat Ketua Baznas Banyuwangi ini diundang menjadi salah satu asatidz untuk mengisi kegiatan bulan suci Ramadan yang diselenggarakan PCINU Hong Kong bekerjsama dengan Word Moslem Studies Center (Womester) Depok, Jawa Barat.
Selama dua pekan, Lukman akan berdakwah dengan memberikan ceramah agama yang sebagian besar adalah para pekerja migran Indonesia di Hong Kong.
“Alhamdulillah, di malam ketiga Ramadan, saya sudah bisa melaksanakan ibadah salat tarawih dan buka puasa bersama di Masjid Ammar dan Osman Ramju Sadick Islamic Center di Hong Kong,” ungkap Lukman saat dihubungi melalui saluran telepon.
Lokasi masjid Ammar ini berada di pinggir jalan di Wan Chai, masjid tersebut diapit dengan gedung-gedung lain yang berada di dekatnya, termasuk bangunan mall.
“Masjidnya tidak melebar seperti di Indonesia, tapi menjulang tinggi enam lantai,” jelas Lukman.
Dari enam lantai itu, jelas dia, lantai dasar ada Islamic Centre, berbagai buku dan selebaran tentang Islam berjajar rapi.
Sementara ruang salat untuk pria ada di lantai dua, dan tempat salat perempuan berada di lantai tiga.
“Masjid ini mampu menampung 700 jemaah dalam sekali ibadah,” katanya.
Untuk mempermudah jemaah, masjid ini dilengkapi dengan lift. Jadi jemaah pria dan wanita bisa dengan mudah mencapai ruang salat.
“Untuk takjil dan buka puasa bersama berada di lantai enam,” cetus Ketua Takmir Masjid Besar Baiturrohiem Rogojampi ini.
Lukman mengaku berbuka puasa bersama KH.Muhammad Romli dan para muslimin yang sebagian besar pekerja migran.
Setelah berbuka puasa di lantai enam dengan para muslim di Hong Kong, termasuk para pekerja migran, baru salat tarawih. Yang menarik, kata Lukman, saat tarawih di Masjid Ammar ini jemaah bisa memilih tempat pelaksanaan salat yakni di lantai bawah dan atas.
Untuk lantai bawah salat tarawih dikerjakan 20 rekaat, sedang lantai atas delapan rakaat.
“Yang lantai atas dikhususkan bagi pekerja migran, karena mereka harus kembali bekerja, jadi memilih salat tarawih dengan bilangan rakaat lebih sedikit,” katanya.
Setiap kegiatan tarawih, lanjut Lukman, membaca satu juz Alquran dengan dilantukan tartil.
“Jadi dalam satu masjid ini jemaah bisa tinggal pilih, jika mau cepat bisa ke lantai atas, dan jika ingin lambat di lantai bawah. Tinggal jemaah mau pilih yang mana,” tandasnya.(ddy/abi)
Editor : Niklaas Andries