Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Maskapai di Banyuwangi, Mulai dari Merpati, Sky Aviation, Wings, Lion, Batik, Garuda, Citilink, hingga Super Air Jet

Niklaas Andries • Minggu, 18 Februari 2024 | 16:30 WIB

TERDAMPAK: Sejumlah penerbangan domestik dan internasional terdampak erupsi gunung di Flores Timur
TERDAMPAK: Sejumlah penerbangan domestik dan internasional terdampak erupsi gunung di Flores Timur
Radarbanyuwangi.id - Ada gula ada semut. Ini setidaknya menggambarkan minat maskapai di Bandara Banyuwangi. Maskapai mana saja yang pernah meramaikan langit Bumi Blambangan?

Grafis penumpang di Bandara Banyuwangi menunjukkan senantiasa tumbuh dari tahun ke tahun. Dari data keseluruhan di tahun 2023 lalu, jumlah penumpang pesawat di Bandara Banyuwangi naik signifikan dibanding tahun 2022.

Jumlah penumpang yang dilayani selama tahun lalu mencapai 155.328 orang. Angka ini naik sebesar 43 persen dibanding tahun 2022. Ini artinya tingkat okupansi di bandara berkode BWX ini lumayan tinggi. Hal inilah yang kemudian mendorong banyak maskapai berlomba-lomba mendaratkan pesawatnya di Banyuwangi.

Tengok saja secara historis perjalanan maskapai di Bandara Banyuwangi. Sejak dinyatakan laik untuk penerbangan komersial pada 29 Desember 2010, Sky Aviation merupakan maskapai pertama yang terbang di Bandara Banyuwangi.

Menggunakan jenis Grand Caravan berkapasitas 9-10 orang pesawat ini melayani rute penerbangan Surabaya- Banyuwangi, pulang pergi. Sambutan hangat pengguna transportasi udara membuat maskapai ini menambah armada dengan Fokker F50 dengan kapasitas lebih besar yakni 48 kursi.

Sayangnya maskapai ini terpaksa angkat kaki pada 20 Oktober 2011 silam. Ini karena mereka kalah bersaing dengan maskapai lainnya yang juga mulai masuk Banyuwangi.

Merpati Nusantara Airlines hadir di Banyuwangi pada 24 Agustus 2011 dengan rute Banyuwangi – Surabaya, pulang pergi.

Habis Merpati terbitlah Garuda Indonesia. Mulai Mei 2014, maskapai pelat merah ini membuka rute sub brand eksplorasi jet Surabaya-Banyuwangi-Denpasar, pulang pergi. Pesawat yang digunakan adalah jenis ATR 72-600 dan Bombardier CRJ1000 Next Gen.

Kemudian, penerbangan maskapai pelat merah ini menjadi cikal bakal Citilink sebagai penerus Garuda Indonesia di Bumi Blambangan. Citilink kemudian hadir melayani rute Banyuwangi – Denpasar dengan pesawat ATR 72-600. Tapi lagi-lagi penerbangan Garuda Indonesia harus terhenti pada 4 November 2015 silam.

Garuda juga mendapatkan pesaing dari Lions Grup. Wings Air juga membuka penerbangan rute Surabaya – Banyuwangi, dengan menggunakan pesawat ATR 72-600. Dan era baru penerbangan Bandara Banyuwangi dimulai tahun 2017 silam.

Rute Jakarta via Bandara Internasional Soekarno Hatta – Banyuwangi dibuka. Rute ini pertama kali diisi oleh maskapai NAM Air pada 16 Juni 2017. Pesawat yang digunakan adalah Boeing 737-500 dengan 150 tempat duduk.

Keberhasilan NAM Air menerbangi langit Banyuwangi juga diikuti Garuda Indonesia. Terhitung 8 September 2017, Garuda kembali terbang dengan menggunakan pesawat jenis Boeing dan Bombardier CRJ1000 Next Gen.

Bak gayung bersambut, Citilink, anak perusahaan Garuda Indonesia, juga mengikuti, induknya terbang ke kota gandrung. Sejak 15 Februari 2018, maskapai ini melayani penerbangan menuju Bandara Banyuwangi dengan menggunakan Boeing 737-500.

Bahkan tingginya traffic penumpang, membuat Citilink menambah jadwal penerbangan menjadi dua kali. Hal ini membuat maskapai ini mengganti pesawat yang digunakannya dengan Airbus A320 pada 9 Agustus 2018. Citilink pun membuka rute Banyuwangi- Denpasar menggunakan pesawat berbadan lebar tersebut.

Maskapai lain pun ikut kepincut dengan pesona Banyuwangi. Adalah maskapai Xpress Air yang kemudian mencoba peruntungan dengan rute Jogjakarta – Banyuwangi. Rencananya penerbangan akan dilakukan tiga kali dalam sepekan yakni Selasa, Kamis, dan Sabtu mulai Agustus 2019. Tidak hanya Jogja, maskapai ini juga berencana membuka penerbangan dari Banyuwangi – Banjarmasin.

Belum puas dengan rute Jakarta-Banyuwangi. Maskapai Citilink Indonesia terus melakukan ekspansi rute. Kali ini eute yang digarap tidak tanggung-tanggung yakni Balikpapan-Banyuwangi dan Banyuwangi-Manado.

Penerbangan Balikpapan-Banyuwangi dibuka pada pertengahan September 2019. Rute itu dibuka tiga kali dalam seminggu yakni Senin, Rabu dan Jumat. Durasi penerbangan dari Balikpapan ke Banyuwangi memakan waktu 2 jam 30 menit.

Sementara itu penerbangan Manado – Banyuwangi dibuka mulai 31 Mei 2019. Penerbangan perdana, pesawat membawa 84 penumpang dari Bandara Sam Ratulangi Manado menuju Bandara Banyuwangi. Pesawat yang digunakan yakni Airbus A320 berkapasitas 180 penumpang. Namun dilanda pandemi, rute-rute Kalimantan dan Sulawesi tersebut lantas tutup.

PERINTIS: Petugas menyiapkan pesawat Grand Caravan rute Banyuwangi – Sumenep di Bandara Banyuwangi.
PERINTIS: Petugas menyiapkan pesawat Grand Caravan rute Banyuwangi – Sumenep di Bandara Banyuwangi.

Berikutnya, ada Lion Air yang turut meramaikan penerbangan di Banyuwangi. Mulai 6 Maret 2020 penerbangan dengan kode JT menerbangi langit Banyuwangi dengan rute Jakarta- Banyuwangi, PP. Masih dalam grup Lion, Batik Air turut nimbrung dalam melayani perjalanan menuju ibu kota dari Banyuwangi.

Meski sempat berhenti terbang pada 11 Juni 2023 karena traffic penurunan penumpang dari Banyuwangi. Batik Air kembali mengudara mulai 1 November 2023. Disusul kemudian dengan Super Air Jet yang mengudara dari Jakarta Banyuwangi per 31 Mei 2023.

Tidak hanya pesawat berbadan lebar. Bandara Banyuwangi juga melayani penerbangan pesawat berbadan kecil. Kali ini Susi Air membuka rute penerbangan Banyuwangi – Sumenep. Penerbangan ini dibuka mulai 11 Januari 2022.

Penerbangan ke Bandara Trunojoyo Sumenep menggunakan pesawat jenis Cessna C208B Grand Caravan. Penerbangan dijadwalkan beroperasi sebanyak dua kali dalam sepekan, yakni pada hari Selasa dan Rabu.

Sayangnya, sekali lagi tidak semua penerbangan berjalan sesuai harapan. Ada penerbangan yang tetap bertahan dan ada juga yang memilih untuk stop beroperasi. Selain faktor okupansi penumpang yang turun. Titik impas atau break even point (BEP) tidak mencapai 70 persen, di mana tahap pendapatan sama dengan biaya operasional menjadi salah satu penyebabnya. (nic/bay)

 

Editor : Niklaas Andries
#Garuda Indoneesia #bandara banyuwangi #merpati airlines #maskapai #wings air #Manado #jogjakarta #airbus #citilink #lion #boeing #banjarmasin #bep #penumpang pesawat #caravan #batik #balikpapan #trunojoyo #banyuwangi #grand #sumenep #Super Jet