Kementrian Perhubungan RI awalnya mendirikan Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi (LP3B) di kawasan Bandara Banyuwangi. Lembaga ini bertujuan untuk keperluan pendidikan penerbangan.
Kemudian sejak pada 23 Desember 2013, LP3B resmi berubah nama menjadi Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (BP3B). Namun, masyarakat Banyuwangi lebih populer menyebutnya sebagai ‘Sekolah Pilot’.
Kampus ini pun terus berkembang. Sarana dan prasarana terus dilengkapi. Tenaga instruktur dan sumber daya manusia juga semakin lengkap dan mumpuni. Pada akhirnya, lembaga tersebut berhasil naik status menjadi Akademi Pilot Indonesia (API).
Selain lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenhub RI, ada juga pihak swasta yang ikut menjadikan kawasan Bandara Banyuwangi sebagai tempat praktik mencetak pilot. Ada Bali International Flight Academy (BIFA), ada juga Mandiri Utama Flight Academy (MUFA).
Tak pelat, banyak pesawat latih ringan yang berseliweran di langit Bumi Blambangan. Menurut sejarahnya, fasilitas landasan pacu Bandara Banyuwangi pun terus ditingkatkan.
Awalnya, saat masih menggunakan nama Bandara Blimbingsari, landasan pacu yang digunakan masih sepanjang 900 meter dengan lebar 23 meter. Kemudian untuk kepentingan komersil tahun 2008, landasan diperpanjang hingga 1.400 meter dengan lebar 30 meter.
Dua tahun setelah beroperasi, landasan kembali diperpanjang menjadi 1.800 meter dengan ketebalan 27 PCN. Tahun 2015 silam, untuk pengembangan menuju bandara internasional, dan agar mampu mengakomodasi pesawat yang lebih besar, landasan kembali diperpanjang menjadi 2.250 meter dengan ketebalan 40 PCN.
Untuk kenyamanan penumpang, pemerintah mulai 2015 membangun terminal baru yang lebih besar. Pembangunan terminal baru ini menelan dana APBD Provinsi Jawa Timur senilai Rp 22,5 miliar dan APBD Kabupaten Banyuwangi senilai Rp 10,5 miliar.
Anggaran tersebut dipergunakan untuk pembangunan fasilitas bandara. Mulai dari bangunan terminal, taxiway, apron, aksesori, elektrikal, musala, dan area parkir.
Yang menarik, terminal Bandara Banyuwangi tersebut mengusung konsep hijau dan ramah lingkungan. Hal ini ditandai dengan penghawaan udara yang alami. Tidak menggunakan AC, tetapi memanfaatkan angin alami yang ada di sekitar persawahan. Ditanbah pula penanaman tanaman rumput di atap terminal. Ada konservasi air dengan memanfaatkan limbah air wudu untuk mengisi kolam ikan.
Kolam-kolam ikan tersebut membuat sirkulasi udara dan uap air diharapkan mereduksi panas dalam ruangan. Sehingga, bangunan terminal bandara ini dharapkan lebih sejuk.
Tidak ketinggalan, ada sunroof yang tembus pandang dari atap, sehingga menjadi pencahayaan alami di siang hari. Ini dapat mengurangi penggunaan energi listrik untuk lampu siang hari.
Selain itu, terminal Bandara Banyuwangi ini mengadopsi bentuk ikat kepala khas Suku Osing yakni Udeng. Terminal yang didesain oleh Andra Matin ini diresmikan pada 2017. Lima tahun kemudian, tepatnya pada November 2022, bangunan terminal bandara ini sukses menjadi juara dunia bidang arsitektur di ajang Aga Khan Awards for Architecture untuk kategori bandara. (nic/bay)
Editor : Niklaas Andries