Tempat pendaratan pesawat terbang pernah ada di Kecamatan Glenmore Banyuwangi. Lahan yang digagas sebagai tempat pendaratan pesawat itu berada di tengah perkebunan. Lokasinya masuk wilayah Afdeling Sidomukti dan Afdeling Muktisari di Kecamatan Glenmore.
Di tengah perkebunan tersebut, sudah terbangun bekas landasan pacu jenis pesawat capung. Pesawat yang biasa digunakan untuk menyemprot hama wereng pada tanaman padi. Landasan ini dibangun sekitar tahun 1970-an, saat Kabupaten Banyuwangi dipimpin oleh Bupati Djoko Supaat Slamet.
Karena itu, lokasi tersebut pernah akan dikembangkan menjadi bandara Banyuwangi. Namun semua rencana pembangunan bandara di Kecamatan Glenmore tersebut itu buyar. Ini masih terkait dengan peristiwa tragedi pembunuhan para ‘dukun santet’ sekitar tahun 1998 silam, saat Banyuwangi dipimpin Bupati H.T. Purnomo Sidik.
Padahal, pada saat itu material dan dana sudah disiapkan untuk membangun bandara di Kecamatan Glenmore. Beberapa tahun kemudian, semangat untuk membangun bandara di Bumi Blambangan berlanjut di era Bupati Samsul Hadi tahun 1999.
Kali ini, semangat untuk meneruskan pembangunan bandara sedikit terganjal. Lantaran wilayah Glenmore ternyata tidak cocok digunakan sebagai bandara. Topografinya yang berada di kaki Gunung Raung, tidak aman untuk penerbangan.
Beruntung, Bupati Samsul berhasil langsung mencari lokasi alternatif di tahun 2001-an. Dan lahan bandara itu akhirnya ditentukan berada di Desa Blimbingsari yang saat itu masih masuk wilayah Kecamatan Rogojampi. Bandara ini memiliki titik koordinat geografis 08 18' 42.70" Lintang Selatan dan 114 20' 16.30" Bujur Timur.
Penamaan awal bandara ini dikenal dengan nama Bandara Blimbingsari. Selanjutnya, pada periode 2004 hingga 2008, bandara ini dikebut pembangunannya secara bertahap dengan pendanaan dari pemerintah pusat (APBN).
Pada 26 Desember 2010, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara melakukan uji kelayakan terbang. Pesawat yang digunakan adalah jenis CASA milik PT Sky Aviation. Hasilnya bandara layak untuk diterbangi pesawat komersial.
Di sisi lain, keberadaan bandara ini menarik Bali International Flight Academy (BIFA). Terhitung sejak 21 April 2009 silam, mereka menggunakan Bandara Blimbingsari untuk keperluan pelatihan lepas landas dan mendarat bagi para calon pilot.
Sedangkan untuk penerbangan komersil, baru dibuka pada 29 Desember 2010. Bandara ini kemudian berubah nama menjadi Bandar Udara Banyuwangi pada tahun 2017. Pengelolaannya kemudian dialihkan dibawah kendali Angkasa Pura II. (nic/bay)
Editor : Niklaas Andries