Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pelaku Wisata Diminta Bawa Belerang ke Paltuding, Kepala Pos TWA Ijen Sebut Blue Fire Tidak Seluruhnya Padam

Ayu Lestari • Jumat, 8 September 2023 | 23:30 WIB
OPSI JANGKA PENDEK: Untuk mengurangi timbunan belerang, pelaku wisata diminta membawa belerang menuju tempat penimbunan di Paltuding sebanyak 2 sampai 5 kilogram.
OPSI JANGKA PENDEK: Untuk mengurangi timbunan belerang, pelaku wisata diminta membawa belerang menuju tempat penimbunan di Paltuding sebanyak 2 sampai 5 kilogram.

RadarBanyuwangi.id – Pengunjung Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen terpantau stabil. Meski masih dalam polemik terkait penyiraman api biru (blue fire) oleh penambang belerang, jumlah pengunjung Ijen tidak menurun.

Kepala Pos Taman Wisata Alam (TWA) Ijen Sigit Haribowo mengatakan, efek dari permasalahan PT Candi Ngrimbi yang menyelamatkan stok belerang di solfatara dari api biru tidak serta-merta menyurutkan minat para wisatawan mendaki Ijen.

Hingga saat ini pengunjung masih terbilang normal, bahkan sempat terjadi kenaikan saat musim liburan.

”Api biru  memang tidak seluruhnya padam. Di beberapa titik tetap menyala. Kami sempat khawatir penyiraman air akan berdampak terhadap kunjungan wisatawan. Kenyataannya masih relatif aman,” bebernya.

Sigit mengungkapkan, sejauh ini total wisatawan yang berkunjung ke TWA Ijen mencapai 2.000 pengunjung di kala musim libur.

Sedangkan pada hari biasa mencapai 500 hingga 600 pengunjung. Angka tersebut sedikit lebih menurun dibanding kunjungan sebelumnya. Namun, jika dikalkulasi secara menyeluruh jumlah tersebut tidak terlalu banyak.

Menurut Sigit, pengunjung basic-nya bermacam-macam. Ada yang ingin melihat api biru, ada juga yang ingin melihat hutan mati dan menikmati sunrise.

”Selama ini mungkin tujuannya api biru. Beberapa pengunjung tetap menikmati pendakian dan sangat terpukau dengan pertunjukkan matahari terbit yang dilihat dari atas puncak,” kata dia.

Salah seorang pemandu wisata Andika Rahmat Hidayat mengatakan, blue fire yang menjadi salah satu branding wisata Banyuwangi memang belum maksimal. Pihaknya khawatir hilangnya fenomena blue fire bisa menjadi pemicu menurunnya wisatawan.

Meski demikian, pihaknya tetap melakukan berbagai upaya dan menyuarakan opsi agar permasalahan yang saat ini terjadi segera dapat penanganan.

”Setelah pertemuan yang diadakan di kantor Disbudpar Senin lalu (4/9), masalah blue fire harus tetap dicarikan solusi. TWA Ijen menjadi salah satu destinasi yang telah mendunia,’’ kata Andika.

Polemik terkait blue fire di Kawah Ijen masih belum menemui titik temu. Penambang beralasan menyiramkan air ke area blue fire demi produksi belerang. Sementara, pelaku wisata menghendaki api biru harus tetap menyala untuk menjual keelokan Ijen kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Ainur Rofiq mengatakan, penyiraman api biru tersebut terkait kepentingan lain, yakni stok belerang yang masih cukup banyak di sekitar kawah.

Sebanyak 60 ton belerang menjadi alasan penyiraman air. Nyala api biru disiram air sebagai opsi agar sisa belerang milik PT Candi Ngrimbi tidak terbakar dan dapat diselamatkan.

Rofiq menjelaskan, upaya untuk menghidupkan api biru di titik lain memang tidak mudah dan murah. Namun, harapannya opsi tersebut bisa terlaksana tanpa mengganggu aktivitas produksi belerang PT Candi Ngrimbi.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, diperlukan pemasangan pipa khusus, kurang lebih butuh 25 pipa. Harganya cukup mahal, mencapai Rp 3 juta untuk ukuran 50 sentimeter.

Sedangkan opsi jangka pendek, lanjut Rofiq, belerang yang tertimbun harus segera diangkat sehingga tidak merugikan PT Candi Ngrimbi.

Para pelaku wisata akan diminta untuk membawa belerang menuju tempat penimbunan di Paltuding sebanyak 2 sampai 5 kilogram. (tar/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#disiram air #blue fire #belerang #api biru #wisatawan #wisata #kawah ijen #banyuwangi