RadarBanyuwangi.id – Kekecewaan pelaku wisata dan pengunjung Taman Wisata Alam (TWA) Ijen yang tidak bisa menyaksikan fenomena blue fire (api biru) harus segera dicarikan jalan keluar.
Jika tidak segera mendapat solusi, dikhawatirkan pengunjung Ijen bakal menurun drastis.
Sempat muncul usulan dari relawan maupun pelaku wisata, kalau ingin melihat api biru pengunjung harus merogoh kocek antara Rp 20 sampai Rp 25 ribu. Biaya tersebut di luar tarif masuk ke Ijen sebesar Rp 7.500 untuk wisatawan lokal.
”Uang tersebut akan dikelola pelaku wisata, relawan, maupun pihak petugas yang menjaga belerang di dekat kawah,” ujar Herman, salah satu relawan Ijen.
Salah satu pemilik travel wisata yang juga pengelola rent car Setyo Ponco Utomo mengaku prihatin dengan keluhan wisatawan yang tidak bisa melihat api biru.
Padahal mereka jauh-jauh datang ke Ijen hanya demi melihat blue fire. Ponco khawatir persoalan ini akan berdampak terhadap menurunnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.
Ponco mengusulkan agar asosiasi pelaku wisata seperti ATTAB, Asita, HPI, HPKWI, asosiasi penambang belerang, dan semua pihak yang terlibat dengan Ijen dilibatkan membahas persoalan ini.
”Terus terang, jauh sebelumnya kami sudah mendapatkan keluhan dari teman-teman pelaku wisata terkait dengan blue fire yang tidak bisa dilihat,” kata Ponco yang sudah bertahun-tahun menggeluti bisnis sewa mobil.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda mengaku sudah mengagendakan pertemuan dengan seluruh pelaku wisata Ijen pada Senin (4/8) besok.
Mulai dari penambang, travel agen, guide lokal, guide khusus, dan BKSDA untuk mencari jalan tengah permasalahan tersebut.
Bramuda menilai blue fire adalah fenomena yang memang ada di Kawah Ijen. Bagaimana mekanisme sebenarnya, semuanya berada dalam pengetahuan para pelaku wisata. Termasuk penambang belerang yang beraktivitas di sekitar Kawah Ijen.
”Kami akan ambil jalan tengah bagaimana permasalahan ini. Yang tahu mekanismenya para penambang belerang. Jadi, kami kumpulkan semuanya nanti,” kata Bramuda.
Seperti diberitakan, pendakian puncak Ijen yang dimajukan pukul 02.00 bukan jaminan untuk bisa menyaksikan fenomena blue fire (api biru).
Belakangan, para wisatawan baik domestik maupun mancanegara, mengaku kecewa. Sebab, mereka tak bisa melihat fenomena api biru yang terkenal di dunia itu.
Kekecewaan wisatawan tersebut disampaikan kepada pemandu wisata maupun relawan Ijen. Jika persoalan ini tidak segera tertangani, dikhawatirkan pengunjung Ijen bisa berkurang gara-gara tak bisa melihat blue fire. Api biru tak bisa dilihat karena disiram air oleh para penambang belerang.
Kepala Pos Taman Wisata Alam (TWA) Ijen Sigit Haribowo mengaku tidak memahami kenapa blue fire dipadamkan oleh petugas dari perusahaan belerang (PT Candi Ngrimbi).
Saat persoalan ini ditanyakan, petugas hanya menjawab untuk meningkatkan produksi belerang. Padahal jumlah produksi belerang selama ini tetap stabil.
”Mungkin bisa ditanyakan langsung ke PT Candi Ngrimbi. Ketika kami tanya jawabannya untuk meningkatkan produksi belerang,” kata Sigit.
Bagian Administrasi dan Keuangan PT Candi Ngrimbi Virga Pradana mengatakan, produksi belerang berasal dari pipa yang menyalurkan gas belerang.
Agar bisa menyublim menjadi cairan belerang, ujung pipa harus bersuhu minimal 200 derajat Celsius.
Nah, gas belerang sendiri memiliki suhu 600 derajat Celsius. Saat tiba di ujung pipa biasanya suhu belerang masih di kisaran 300 sampai 400 derajat Celsius.
”Kami dinginkan supaya belerangnya bisa diambil dengan menyiram menggunakan air tawar yang memang kami sediakan di sana agar suhunya sampai 200 derajat,” jelas Virga. (fre/tar/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin