RadarBanyuwangi.id – Selagi masih ada waktu di Makkah, tak ada salahnya jemaah Al Haram Ziarah Wizatama kembali melakukan rangkaian umrah.
Umrah badal kedua kali ini, dimulai dengan mengambil miqat (tempat start umrah) di kawasan Jikronah.
Perjalanan umrah bersama Al Haram Ziarah Wizatama kali ini dirasakan oleh beberapa jemaah sangat memuaskan. Sebab, mereka bisa melakukan rangkaian ibadah umrah hingga beberapa kali.
Nah, kali ini beberapa jemaah yang punya kemauan serta niat kuat dan kondisi fisiknya masih memungkinkan, kembali menjalani umrah.
Tour Leader (TL) sekaligus mutawif Al Haram Ziarah Wizatama Tour dan Travel yang bertugas, Ustad Maksud Abdul Hanan, dengan telaten kembali memandu jemaah yang melakukan umrah badal.
Ustad Maksud Abdul Hanan mengajak jemaah berangkat menuju Jikronah. Tempat ini jaraknya sekitar 32 kilometer (km) dari Masjidilharam. Setelah beberapa menit menempuh perjalanan dengan kendaraan, jemaah pun akhirnya tiba di Jikronah.
Rupanya, kawasan Jikronah yang merupakan tempat miqat paling mudah dijangkau ini sedang padat. Pengunjungnya membeludak. Bisa juga dibilang, tempat ini sedang crowded hari itu.
Jemaah pun harus bersabar dan tidak terburu-buru untuk masuk Masjid Jikronah. Selanjutnya, mereka berniat umrah badal dan melakukan salat sunah.
Masjid yang didominasi warna putih tersebut memiliki dua bagian. Satu bagian merupakan tempat salat jemaah laki-laki. Sedangkan satu bagian lain, dikhususkan sebagai tempat salat jemaah perempuan.
Jemaah Al Haram Ziarah Wizatama harus rela antre untuk salat sunah di Jikronah. Pengunjung yang membeludak memang membuat suasana menjadi kurang leluasa bagi semua.
”Biasanya jemaah umrah yang sudah tinggal di Makkah, kalau mau umrah badal akan mengambil miqat di Jikronah. Karena ke sini mudah dijangkau dan lebih dekat. Makanya sangat ramai yang ambil miqat di sini,” jelas Ustad Maksud.
Sekadar diketahui, Jikronah yang sudah dilengkapi masjid tersebut, juga merupakan tempat bersejarah. Di tempat ini terdapat sebuah sumur yang berperan dalam sejarah kebudayaan Islam.
Ustad Maksud menceritakan, atas izin Allah SWT, pada masa itu Nabi Muhammad SAW memukul tongkatnya ke bumi di Jikronah.
Tiba-tiba setelah pukulan tongkat tersebut keluar air. Pada perkembangan selanjutnya, muncratan air tersebut melimpah dan menjadi sumur.
”Pada masa itu, sumur Jikronah itu sempat diracuni oleh kaum kafir Quraisy. Karena mereka tahu, Rasulullah sering minum air ini. Sebelum beliau minum, Rasulullah langsung meludahi sumur ini dan air yang diambil dari sumur menjadi tawar alias tidak beracun,” jelas Ustad Maksud.
Nah, kembali ke rangkaian umrah badal jemaah Al Haram Ziarah Wizatama. Semuanya akhirnya bisa menjalankan salat sunah di Masjid Jikronah. Setelah dari masjid, mereka segera bergegas kembali ke dalam bus.
”Karena cuaca sangat terik dan antrean yang padat, kami tidak sempat mengabadikan momen di Jikronah,” tutur Citra Pujirahayu Indah, 48, jemaah asal Kelurahan Tamanbaru, Kecamatan Banyuwangi.
Selanjutnya, jemaah langsung dipandu membaca niat umrah badal sebelum bus berangkat. Setelah berniat, bus yang mengangkut mereka pun bertolak menuju kawasan Masjidilharam.
Agar kondisi jemaah tetap terjaga, mereka kembali ke hotel terlebih dahulu. ”Mampir ke hotel untuk makan siang terlebih dahulu,” ujar Ustad Maksud Abdul Hanan.
Setelah makan siang, jemaah pun berjalan menuju Masjidilharam. Kebetulan sudah tiba waktu Duhur, mereka salat Duhur berjemaah di Masjidilharam.
Usai salat, jemaah kembali melanjutkan umrah sunah. Mereka melakukan tawaf berjalan mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali.
Kemudian, dilanjutkan dengan salat sunah, lalu menuju ke Safa dan Marwah untuk melaksanakan sai. Begitu selesai melakukan sai, berakhirnya umrah badal kali ini ditandai dengan tahalul atau mencukur sebagian rambut.
”Alhamdulillah,” ujar Abdul Aziz, jemaah asal Kecamatan Glenmore, usai melakukan umrah sunah. (bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin