RadarBanyuwangi.id – Rombongan umrah PT Al Haram Ziarah Wizatama sudah selesai melaksanakan umrah wajib. Sehari berikutnya, mereka langsung mengeksplorasi seputar Masjidilharam.
Hari pertama di Makkah, cuaca panas menyengat, suhu kisaran 40 derajat Celcius, tidak menyurutkan kami jamaah salat Duhur.
‘’Alhamdulillah, bisa salat Dhuha, salah Duhur persis di pelataran Kakbah. Terik dan panas menyengat, tapi ada rasa sejuknya. Rasanya ada yang dingin berembus saat saya salat. Mungkin efek dari lantai marmer,’’ jelas Citra Puji Rahayu Indah, 48, jemaah yang tinggal di Jalan Borobudur Banyuwangi.
Sementara itu, seluruh jemaah umrah PT Al Haram Ziarah Wizatama pada umumnya berlomba-lomba meraih keberkahan ibadah di Masjidilharam.
Setelah melaksanakan ibadah umrah wajib, jamaah diberikan kesempatan oleh pihak Al Haram Ziarah Wizatama Tour dan Travel untuk menjakankan ibadah umrah sunah sebanyak tiga kali.
Mutawif sekaligus Tour Leader (TL) Al Haram Ziarah Wizatama, Ustad Maksud Abdul Hanan menjelaskan, bahwa tiga kali kesempatan umrah sunah yang diberikan tersebut akan dilakukan dengan mengambil miqat (start umrah) di tiga lokasi yang berbeda.
Miqat pertama rencananya akan diambil di Masjid Tan'im. Sedangkan miqat pada kesempatan umrah sunah kali kedua akan dilakukan dari Masjid Hudaibiyyah.
Sedangkan kesempatan terakhir nantinya, jemaah akan diajak mengambil start umrah (miqat) di Masjid Jikronah.
Sementara itu, jemaah memanfaatkan setiap waktu yang ada selama di Makkah untuk menyusuri Masjidilharam dan area sekitarnya. Ada jemaah yang naik lantai empat yang merupakan lantai paling atas di Masjidilharam.
‘’Kita bisa salat dan iktikaf di dekat kubah jin. Satu di antara tiga kubah itu, diriwayatkan merupakan tempat Nabi Muhammad menyekap kaum jin,’’ jelas Ustad Maksud Abdul Hanan.
Selain itu, beberapa jemaah merasakan ingin sekali menjalani tawaf di area dekat Kakbah. Namun, ada aturan baru yang diterapkan bagi jemaah yang ingin tawaf sunah.
Rupanya, kawasan sekeliling Kakbah hanya diperuntukkan bagi jemaah yang berpakaian ihram. Berpakaian ihram, artinya mereka sedang menjalani umrah.
‘’Kalau dulu jemaah dengan pakaian bebas bisa tawaf di sekitar Kakbah. tetapi karena banyaknya jamaah, maka Askar (petugas) membatasi hanya orang yang berpakaian ihram yang boleh masuk ke sekitar Kakbah,’’ jelas Ustad Maksud.
Dia menambahkan, kalau jemaah tidak sedang tawaf wajib umrah seharusnya diminta menjauh dari kawasan itu. Meski begitu, Askar (petugas) biasanya memberikan toleransi kepada jemaah yang menjalani tawaf sunah.
Caranya jemaah tetap mengenakan pakaian ihram dengan pakai baju dalaman.
"Kebijakan ini hanya untuk meminimalkan penumpukan jemaah di sekitare Kakbah. Karena saat ini sedang ada pengembangan Masjidilharam. Askar petugas polisi sudah tahu itu, jadi tidak masalah (pakai baju dalaman ditutup baju ihram) tawaf di sekitar Kakbah," ujar ustad Maksudi. (bay)
Editor : Ali Sodiqin