RadarBanyuwangi.id – Jemaah umrah PT Al Haram Ziarah Wizatama berkunjung ke Jabal Uhud. Bertepatan bulan Muharram, mereka sempat menggemakan Selawat Badar di tempat bersejarah tersebut.
Rangkaian perjalanan umrah jemaah Al Haram Ziarah Wizatama berlanjut ke Jabal Uhud. Selama perjalanan dari pusat kota Madinah menuju Gunung Uhud, mutawif sekaligus Tour Leader (TL) Ustad Maksud Abdul Hanan menjelaskan secara panjang lebar siroh dan hikmah dari sejarah perang Uhud.
Gunung (Jabal) Uhud merupakan gunung terbesar di kawasan Madinah. Bentuk gunung ini memanjang dari utara ke selatan dengan jangkauan panjang sekitar 7 Kilometer.
Selain itu, ada bukit-bukit di sepanjang alur gunung tersebut. Sedangkan jarak titik terdekat Jabal Uhud dengan pusat kota Madinah sejatinya hanya 5 Kilometer.
Karena itu, tak lama di dalam bus, akhirnya jemaah tiba di tempat perang Uhud. Di tempat tersebut, gugur para syuhada dalam perang melawan kaum kafir Quraish. Di lokasi ini sudah tertata rapi.
Yang utama adalah area parkir yang sangat luas. Tempat parkir kendaraan kecil tersedia terpisah dengan are parkir bus. Saat rombongan umrah Al Haram Ziarah Wizatama berkunjung ke sana, kawasan parkir bus terlihat ramai.
Rupanya, ribuan pengunjung membanjiri tempat bersejarah tersebut siang itu.
Setelah berkeliling melihat lokasi perang dan pemakaman para syuhada Perang Uhud, rombongan berkumpul di teras masjid yang ada di kawasan tersebut.
Kali ini, budayawan Banyuwangi H Samsudin Adlawi yang juga Penasihat Dewan Kesenian Blambangan memberikan wawasan tentang Selawat Badar kepada jemaah umrah Al Haram.
‘’Berkenaan dengan bulan Muharram dan menyosong Haul KH Ali Manshur pencipta Selawat Badar pada 13 Agustus 2023 mendatang, marilah kita menggemakan Selawat Badar di Jabal Uhud ini,’’ ujar Samsudin, yang juga Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi itu.
Jadilah, jemaah Al Haram menggemakan Selawat Badar di tempat bersejarah itu. Mereka membaca Selawat Badar di tengah para tamu Allah yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Apalagi secara kebetulan, pembacaan Selawat Badar itu dihadiri oleh perwakilan cucu dan keluarga besar KH. Ali Manshur.
Menurut Samsudin, Sholawat Badar yang diciptakan KH Ali Manshur itu terdiri dari 24 bait. Selawat tersebut diciptakan pada tahun 1960-an. Ini diciptakan untuk menghadapi kerasnya kaum atheis yang tergabung dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) ketika itu.
Pada perkembangan selanjutnya, jelas Samsudin, Selawat Badar semakin dikenal. Bahkan Selawat Badar tak hanya populer di Banyuwangi.
Selawat Badar menjadi doa penyemangat di segenap penjuru Nusantara. Bahkan, Selawat Badar juga pada akhirnya dikenal di seluruh dunia.
‘’Bahkan perkembangan selanjutnya, Selawat Badar hadir dalam berbagai versi. Ada versi pop, versi Melayu, bahkan versi lain-lainnya,’’ tutur tokoh pegiat sastra yang produktif menulis buku itu.
Sementara itu, pihak perwakilan cucu keluarga KH. Ali Mansyur sebagai pencipta Selawat Badar mengucapkan terima kasih kepada para jamaah.
Karena, KH Ali Manshur adalah suri teladan dan menjadi umat Islam yang selalu semangat.
Tak terasa waktu terus bergulir, menyimak sekaligus melihat langsung tempat-tempat bersejarah dalam sejarah peradaban Islam di Madinah dan sekitarnya.
Setelah mengunjungi Jabal Uhud, jemaah kembali ke pusat kota Madinah. Ini dilakukan, agar jemaah umrah Al Haram Ziarah Wizatama Tour dan Travel tersebut tetap bisa menjalankan salat Duhur berjamaah di Masjid Nabawi. (bay)
Editor : Ali Sodiqin