RadarBanyuwangi.id – Malam tahun baru Hijriah atau 1 Suro, pengunjung Taman Nasional Alas Purwo (TN AP) di Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, membeludak, Selasa (18/7). Pengunjung dari berbagai daerah datang ke hutan yang dikenal wingit tersebut untuk melakukan tirakatan.
Pada malam 1 Suro, pengunjung yang datang tidak hanya warga lokal Banyuwangi. Tepat malam 1 Suro, Alas Purwo diserbu pengunjung dari berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, hingga Jakarta.
Sejak sore, pengunjung berkumpul di sekitar Pantai Pancur. Pada malam 1 Suro, Gua Istana dan Mayangkara di Alas Purwo dijadikan tempat tirakatan. Lokasi dua gua tersebut hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Pantai Pancur.
Bagi pengunjung yang beragama Hindu, sebelum melakukan tirakatan, lebih dulu berdoa di Situs Kawitan, di samping Pura Agung Giri Salaka, kawasan Alas Purwo.
”Sebelum menjalankan laku tapa, para petapa harus meminta izin terlebih dahulu. Titik awal petapa di Situs Kawitan,” kata Muri, 65, juru kunci Situs Kawitan.
Menurut Muri, Situs Kawitan merupakan petilasan Mpu Bharada, guru Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan. Situs ini diberi nama kawitan yang berarti awal. ”Banyaknya peristiwa sejarah yang bermula di sana,” ungkapnya.
Mpu Bharada dipercaya memilih Situs Kawitan atas perintah Raja Airlangga untuk kegiatan belajar ilmu bercocok taman dan pengairan. ”Ini dulu juga sebagai tempat riset ilmu pengetahuan,” terang Muri.
Pada hari biasa, Situs Kawitan biasa digunakan sebagai lokasi sembahyang umat Hindu. Tapi saat menjelang malam 1 Suro, situs ini ramai pengunjung yang akan melakukan semedi.
”Hari ini saja (Selasa kemarin), sudah lebih dari seratus orang yang mampir ke sini,” ungkap Muri.
Usai berdoa di Situs Kawitan, para petapa melanjutkan perjalanan menuju ke tempat pertapaan sejati di Gua Istana dan Gua Mayangkara. ”Sudah menjadi tradisi bagi kami, ahli spiritual berkunjung ke dua gua itu di malam 1 Suro,” ujar Rudi Hartono, 50, pengunjung asal Banyuwangi.
Menurut Rudi, kunjungan ke Gua Istana dan Gua Mayangkara didasarkan pada panggilan hati. Setiap malam 1 Suro, dia selalu mendapatkan panggilan untuk menyepi dan mengasah ilmu yang dipelajarinya.
”Tidak selalu ke gua di Alas Purwo, kadang juga ke tempat laku spiritual lain di luar Banyuwangi,” terangnya.
Dengan membawa perbekalan secukupnya, Rudi menempuh perjalanan menuju Gua Istana dari Pantai Pancur dengan berjalan kaki. ”Hari ini (kemarin) bermalam di gua, besok (hari ini) akan pulang ke Banyuwangi,” pungkasnya. (gas/abi/c1)
Editor : Ali Sodiqin