RADAR GENTENG– Bukan hanya Alas Purwo yang dijadikan tempat wisata religi pada malam 1 Suro. Situs Ananta Boga yang terletak di Dusun Gunungsari, Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, juga ramai dikunjungi warga menjelang 1 Suro, Selasa (18/7). Tempat tersebut sehari-harinya dijadikan ritual untuk umat Hindu.
Di Situs Ananta Boga yang berlokasi di lereng Gunung Raung itu terdapat Pura Antaboga yang dipercaya masyarakat sebagai persinggahan Maha Rhsi Markandea dari India selaku penyebar agama Hindu di Bali.
Situs tersebut juga dipercaya sebagai simbol pemersatu umat beragama di Banyuwangi. Di sana berdiri musala, patung Dewi Kwan Im, patung Buddha, dan patung Bunda Maria. Di area ini terdapat 29 sumber mata air (tirta) untuk ritual pengambilan air suci, pengobatan, maupun mandi.
Pengurus Situs Ananta Boga, Supeno, 51, mengungkapkan, pada hari-hari biasa tempat tersebut sepi pengunjung. Namun, pada malam 1 Suro jumlah pengunjung meningkat drastis. ”Mulai banyak orang yang datang, peningkatannya sekitar 50 persen dibanding hari biasa,” ujarnya.
Pria paro baya asal Dusun Selorejo, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, itu mengungkapkan, pengunjung datang ke Ananta Boga untuk tirakatan malam 1 Suro. ”Biasanya tirakatan sampai dua malam,” imbuhnya.
Menurut Supeno, Situs Ananta Boga menjadi salah satu lokasi alternatif melakukan tirakatan selain di Alas Purwo. ”Pengunjung yang datang banyak dari luar daerah,” katanya seraya menyebut ada pengunjung yang berasal dari Sumatra.
Supeno menyebut, para pengunjung akan menginap di Ananta Boga selama beberapa malam. ”Biasanya menginap di warung-warung milik warga (di luar situs) atau di pondok tempat beristirahat di dalam situs ini,” ujarnya.
Dampak peningkatan jumlah pengunjung Ananta Boga juga ikut dirasakan para pemilik warung di sekitar situs. Salah satunya Suprihatin, 42, asal Dusun Gunungsari, Desa Sumbergondo. Dia mengaku senang karena pendapatannya meningkat pesat.
”Ramainya justru sejak upacara piodalan awal Juli kemarin. Mulai saat itu pengunjung ramai ditambah malam Suro makin ramai,” paparnya.
Menurut Suprihatin, pada hari-hari biasa dia hanya mendapat penghasilan Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu. Begitu, ada tirakatan malam 1 Suro, dia mengaku bisa membawa pulang uang Rp 400 ribu sampai Rp 700 ribu. ”Alhamdulillah, harus disyukuri kalau ramai begini,” tandasnya. (sas/abi/c1)
Editor : Ali Sodiqin