Waktu pendakian diatur sesuai surat edaran nomor SE.54/K.2/BIDTEK.1/KSA/1/2023. Dari yang semula dibuka pukul 02.00 menjadi pukul 04.00. Pembatasan waktu kunjungan ke Kawah Ijen berimbas kepada jumlah wisatawan. Setelah aturan diterapkan, pengunjung menurun hingga 50 persen.
Sebab, dengan aturan tersebut otomatis wisatawan tak bisa menyaksikan blue fire. ”Yang dicari pendaki adalah ingin melihat blue fire. Ketika tidak bisa melihat api biru, jumlah pengunjung menurun,” kata Kabid Pemasaran Disbudpar Banyuwangi Ainur Rofiq.
Rofiq mengakui, saat ini memang low season sehingga kunjungan wisatawan di Ijen tampak sepi. Faktor pendakian yang dibuka lebih siang juga menjadi penyebab menurunnya pengunjung. Meski begitu, wisatawan masih bisa menyaksikan landscape Ijen yang eksotis meskipun tidak bisa melihat blue fire. ”Landscape-nya juga masih bagus, pengunjung bisa menikmati keindahan Ijen. Yang penting tidak mendekat ke area kawah,” terangnya.
Rofiq meminta kepada guide dan agen travel wisata untuk menjelaskan kepada wisatawan terkait kondisi Ijen. Aturan yang dikeluarkan BKSDA harus tetap diikuti demi keselamatan wisatawan.
Penyedia jasa wisata bisa mengarahkan wisatawan untuk mendatangi tempat-tempat lain di Banyuwangi yang tak kalah bagus. Seperti Alas Purwo, Bangsring Underwater, Taman Nasional Baluran, dan beberapa destinasi wisata lainya.
”Aturan ke Ijen baru diterapkan dua hari lalu. Yang jelas aturan tersebut berpengaruh terhadap wisatawan. Kita harus menunggu sampai kondisi Ijen kembali normal,” pungkas Rofiq. (fre/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud