Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pernah Jadi Jujugan Wisatawan, Pemandian Buatan Belanda Kini Merana

Agus Baihaqi • Jumat, 19 Agustus 2022 | 22:07 WIB
RUSAK: Turbin yang dulu dibuat warga untuk mengaliri listrik di Afdeling Sumbersalak, Kebun Jatirono, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore kini rusak dan mangkrak. (Salis Ali/Radar Genteng)
RUSAK: Turbin yang dulu dibuat warga untuk mengaliri listrik di Afdeling Sumbersalak, Kebun Jatirono, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore kini rusak dan mangkrak. (Salis Ali/Radar Genteng)
GLENMORE, Jawa Pos Radar Genteng – Pemandian Tirto Argo yang berada di Afdeling Sumbersalak, Kebun Jatirono, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, yang memiliki pemandangan asri, pada 2015 hingga 2016 sempat ngehits. Tapi, pemandian itu kini seperti tidak dijamah pengunjung.

Pemandian Tirto Argo itu selain menyuguhkan keindahan alam, sebenarnya tempat bersejarah. Konon, itu dibangun oleh Belanda pada 1908. “Itu termasuk bangunan lama,” cetus salah satu penjaga pemandian Tirto Agro, Jumarwi, 59.

Menurut Jumarwi, okupansi pengunjung yang datang ke tempat wisata ini setiap harinya tidak lebih dari lima orang saja. Saking sepinya pengunjung, pengelola memutuskan dijaga saat liburan saja. “Karena ramainya Minggu dan hari libur, kami jaganya cuma itu saja (hari libur),” katanya.

Pengunjung ramai yang disebut Jumarwi itu, bukan berarti ada ratusan pengunjung, tapi pengunjung yang datang ke lokasi pemandian peninggalan Belanda itu hanya puluhan orang. “Ramainya pengunjung paling cuma 20-an orang saja, kebanyakan anak-anak muda,” terangnya.

Photo
Photo
SUNYI: Pemandian Tirto Argo di Afdeling Sumbersalak, Kebun Jatirono, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore yang pernah menjadi jujugan wisatawan pada 2015 hingga 2016 itu kini sepi pengunjung. (Salis Ali/Radar Genteng).

Seperti banyak yang dikeluhkan pengelola tempat wisata lain, Jumarwi mengatakan pemandian Tirto Argo yang sepi ini bermula muncul pandemi Covid-19. “Sejak ada virus korona sepi sampai sekarang,” tandasnya.

Tidak hanya itu, akses jalan menuju ke tempat wisata ini cukup sulit. Dan itu membuat pengunjung enggan untuk datang lagi. “Dulu ramainya saat tempat sedang tren, sekitar 2015 hingga 2016, banyak yang penasaran, kalau sekarang banyak yang sudah tahu, jadi sepi,” katanya..

Ditanya apa saja yang ada di tempat wisata itu, Jumarwi menjelaskan di lokasi wisata itu ada turbin yang dibangun masyarakat sekitar 1988. Saat itu, ia menjadi kepala dusun di kampungnya. “Dibangun dengan gotong royong,” jelasnya.

Turbin itu, jelas dia, dibuat untuk mengaliri listrik di rumah warga yang ada di Afdeling Sumbersalak. Karena saat itu, perkampungan belum dialiri listrik PLN. ‘Sejak setahun lalu turbin rusak dan tidak diperbaiki,” katanya.

Padahal, lanjut dia, meski sudah banyak rumah warga menyambung listrik dari PLN, masih ada warga yang tidak mampu di daerah itu, tetap menggunakan aliran listrik dari turbin untuk rumahnya. “Sekarang ada sekitar 12 rumah yang nyambung listrik ke tetangga,” pungkasnya.(sas/abi) Editor : Agus Baihaqi
#kolam #Tirto Argo #wisatawan #wisata #Pemandian