Pemandian Tirto Argo itu selain menyuguhkan keindahan alam, sebenarnya tempat bersejarah. Konon, itu dibangun oleh Belanda pada 1908. “Itu termasuk bangunan lama,” cetus salah satu penjaga pemandian Tirto Agro, Jumarwi, 59.
Menurut Jumarwi, okupansi pengunjung yang datang ke tempat wisata ini setiap harinya tidak lebih dari lima orang saja. Saking sepinya pengunjung, pengelola memutuskan dijaga saat liburan saja. “Karena ramainya Minggu dan hari libur, kami jaganya cuma itu saja (hari libur),” katanya.
Pengunjung ramai yang disebut Jumarwi itu, bukan berarti ada ratusan pengunjung, tapi pengunjung yang datang ke lokasi pemandian peninggalan Belanda itu hanya puluhan orang. “Ramainya pengunjung paling cuma 20-an orang saja, kebanyakan anak-anak muda,” terangnya.
Seperti banyak yang dikeluhkan pengelola tempat wisata lain, Jumarwi mengatakan pemandian Tirto Argo yang sepi ini bermula muncul pandemi Covid-19. “Sejak ada virus korona sepi sampai sekarang,” tandasnya.
Tidak hanya itu, akses jalan menuju ke tempat wisata ini cukup sulit. Dan itu membuat pengunjung enggan untuk datang lagi. “Dulu ramainya saat tempat sedang tren, sekitar 2015 hingga 2016, banyak yang penasaran, kalau sekarang banyak yang sudah tahu, jadi sepi,” katanya..
Ditanya apa saja yang ada di tempat wisata itu, Jumarwi menjelaskan di lokasi wisata itu ada turbin yang dibangun masyarakat sekitar 1988. Saat itu, ia menjadi kepala dusun di kampungnya. “Dibangun dengan gotong royong,” jelasnya.
Turbin itu, jelas dia, dibuat untuk mengaliri listrik di rumah warga yang ada di Afdeling Sumbersalak. Karena saat itu, perkampungan belum dialiri listrik PLN. ‘Sejak setahun lalu turbin rusak dan tidak diperbaiki,” katanya.
Padahal, lanjut dia, meski sudah banyak rumah warga menyambung listrik dari PLN, masih ada warga yang tidak mampu di daerah itu, tetap menggunakan aliran listrik dari turbin untuk rumahnya. “Sekarang ada sekitar 12 rumah yang nyambung listrik ke tetangga,” pungkasnya.(sas/abi) Editor : Agus Baihaqi