RADAR GENTENG - Rowo Bayu yang terletak di Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, kembali menjadi perbincangan. Itu, setelah film KKN di Desa Penari yang diadopsi dari sebuah cerita yang sempat viral di twitter pada 2019 tayang di layar lebar.
Banyak yang berspekulasi, Rowo Bayu yang dikenal petilasan Raja Blambangan Prabu Tawang Alun, sebagai lokasi KKN tersebut. Dugaan itu semakin kencang berembus, setelah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berbincang dengan Sudirman, salah satu pengelola Wisata Rowo Bayu.
Dalam perbincangan yang beredar di media sosial itu, Sudirman yang mengaku mendapat cerita itu dari Kepala Desa Bayu, Sugito, meyakini Rowo Bayu sebagai lokasi cerita KKN di Desa Penari, tepatnya di Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Sebab, banyak yang identik dari cerita di film dengan apa yang diketahui dari cerita kepala desa.
Ditemui Jawa Pos Radar Genteng di rumahnya, Sugito menceritakan sekitar tahun 2009, ada sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desanya. “Saat itu, saya baru setahun jadi kepala desa. Setelah cerita KKN ini ramai, saya tanyak ke perangkat desa, dan menyatakan 11 mahasiswa dari Surabaya KKN di sini,” katanya, Minggu (22/5).
Dari informasi yang dikumpulkan, tampak mirip dengan cerita yang awalnya ditulis oleh salah satu pemilik akun di Twitter bernama Simpleman tersebut. “Awalnya, setelah datang dari Surabaya, mereka datang ke Rowo Bayu untuk survey. Saat itulah, ada dua anak yang memisahkan diri dan masuk ke hutan di Rowo Bayu,” ungkapnya.
Dua anak tersebut, terang Sugito, kemudian melakukan tindakan yang tidak senonoh di desa tersebut, tepatnya di Dusun Darungan, atau yang sempat disebut kampung 'hilang', sekitar dua kilometer dari Rowo Bayu. “Dua mahasiswa laki dan perempuan itu masuk hutan, informasinya sampai ke Dusun Darungan. Di sana mereka melakukan hal yang negatif,” ungkapnya.
Singkat cerita, sambung Sugito, dua anak yang nyasar tersebut, kemudian kembali ke Rowo Bayu untuk bertemu perangkat desa dan kelompoknya. “Setelah kembali ke desa, mereka berdua (mahasiswa yang nyasar) tiba-tiba sakit keras. Karena sakit, mereka dipulangkan ke Surabaya dan setelah beberapa bulan meninggal,” ungkapnya.
Sugito menyebut, dari cerita KKN Desa Penari dan cerita yang pernah ada di desanya, tak jauh berbeda. Hanya saja, ia tidak yakin jika Desa Penari itu berada di Banyuwangi, apalagi di desanya. Sebab, di Desa Bayu itu tidak pernah ada Sanggar Tari. “Kalau Desa Penari saya jamin bukan di sini. Kalau secara gaib, mungkin iya. Tapi tidak ada pembuktiannya,” kata Sugito.
Sugito mengaku sedang mengumpulkan data-data yang bisa menjadi bukti soal adanya mahasiswa KKN di desanya. “Datanya akan kami cari, biasanya ada cinderamata atau data tertulis seperti itu,” pungkasnya.
Senada dengan Sugito, pengelola Rowo Bayu, Sudirman, menyebut apa yang ada di film KKN di Desa Penari, sama persis dengan apa yang ada di cerita masyarakat Bayu sekitar 2009. “Kalau saya dapat cerita ini dari pak kepala desa, jadi ya tidak beda. Intinya, tempat ini memang sakral, kalau ada orang yang datang untuk niat jelek, paski akan berbalik ke dirinya sendiri,” cetusnya.
Berbeda dengan dua orang sebelumnya, Saji, juru pelihara (jupel) Rowo Bayu justru menolak mentah-mentah anggapan adanya Desa Penari di Desa Bayu. Bahkan, ia yang menjadi jupel sejak 2003, tidak mengetahui sama sekali ada rombongan mahasiswa KKN datang ke Rowo Bayu. “Kalau Kota Penari ada. Itu Banyuwangi. Kalau Desa Penari tidak ada. Itu hoax. Saya saja tidak pernah tahu ada anak KKN datang ke Rowo Bayu, kok,” tandasnya.
Sementara itu, Sekjen Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) Ali Nurfatoni, menyampaikan akan melakukan retrokognisi untuk melihat apa yang pernah terjadi di masa lampau. Hal itu, guna melihat kebenaran cerita tersebut. “Bisa saja dilakukan itu (retrokognisi),” ungkapnya.
Ali Nurfatoni mengatakan, hal-hal gaib seperti itu memang berdekatan dengan manusia. Untuk itu, perlu adanya sikap saling menghormati di manapun kita berada. “Hal-hal seperti itu tidak bisa dimungkiri ada di sekitar kita,” katanyaa.(sas/abi)