Perlu tenaga dan niat yang ekstra untuk menuju ke perkampungan tersebut. Sebab, harus melalui hutan karet dan beberapa kayu besar. “Jalannya sulit dan sepi,” kata Sugito kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Tidak hanya itu, Sugito mengatakan jalur menuju kampung tersebut hanya berupa jalan setapak dengan kontur naik turun. Jalan itupun, hanya cukup untuk satu kendaraan roda dua. “Jika ada yang berpapasan, salah satu kendaraan harus mengalah. Kalau tidak, jalannya tidak cukup,” terangnya.
Menurut Sugito, ada sekitar 10 rumah permanen berdiri di tempat itu. Hanya saja, kondisinya sudah rusak karena lama ditinggal oleh penghuninya. “Kalau tetap di sana, tempatnya jauh dari keramaian. Sekitar tahun 2010, warga di sana mulai meninggalkan lokasi tersebut,” jelasnya.
Di Darungan, terang Sugito, dulunya ada kongsi atau biasa disebut perumahan. Sejak tahun 2000 itu, pekerjaannya berkurang dan dijadikan satu di kongsi Telepak. Sehingga, mulai tahun 2000 perumahan Darungan dikosongkan. “Saya mencoba menelusuri, saat di lokasi kampung hilang, GPS saya tiba-tiba mati,” pungkasnya.(sas/abi) Editor : Agus Baihaqi